Sabtu, 30 April 2011

Pendekatan Filosofis dalam Studi Islam

A. Pendahuluan

Agama Islam yang dibawa oleh nabi Muhamad Saw, diyakini dapat menjamin terwujudnya kehidupan manusia yang sejahtera lahir dan batin. Di dalamnya terdapat berbagai petunjuk tentang bagaimana seharusnya manusia itu menyikapi hidup dan kehidupan ini secara lebih bermakna dalam arti yang seluas-luasnya.
Seiring perubahan waktu dan perkembangan zaman, agama semakin dituntut agar ikut terlibat secara aktif di dalam memecahkan berbagai masalah yang dihadapi manusia. Agama tidak boleh hanya sekedar menjadi lambang kesalehan atau berhenti sekedar disampaikan dalam khotbah, melainkan secara konsepsional menunjukkan cara-cara yang paling efektif dalam memecahkan masalah.
Dirasah Islamiyah atau studi keislaman (Islamic Studies), menjadi sangat penting dan menjadi perhatian yang luas, untuk menjawab tantangan zaman tersebut. Dirasah Islamiyah atau studi keislaman (Islamic Studies) secara sederhana dapat dikatakan sebagai usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam. Dengan perkataan lain “usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui dan memahami serta membahas secara mendalam tentang seluk beluk atau hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, baik ajaran-ajarannya, sejarahnya maupun praktek-praktek pelaksanaannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari sepanjang sejarahnya. Untuk itu diperlukan kajian pendekatan yang dapat digunakan dalam dirasah islamiyah sehingga kehadiran agama secara fungsional dapat dirasakan penganutnya. Sebaliknya tanpa mengetahui berbagai pendekatan dalam memahami ajaran agama, tidak mustahil agama menjadi sulit difahami oleh masyarakat, tidak fungsional, dan akhirnya masyarakat mencari pemecahan masalah kepada agama lain, dan hal ini tidak boleh terjadi.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan dalam memahami ajaran agama adalah pendekatan filosofis. Adapun yang dimaksud dengan pendekatan disini adalah cara pandang atau paradigma yang terdapat dalam suatu bidang ilmu yang selanjutnya digunakan dalam memahami agama. Dalam hubungan ini, Jalaluddin Rahmat mengatakan bahwa agama dapat diteliti dengan menggunakan berbagai paradigma. Realitas keagamaan yang diungkapkan mempunyai nilai kebenaran sesuai dengan kerangka paradigmanya. Karena itu, tidak ada persoalan apakah penelitian agama itu penelitian ilmu sosial, penelitian legalistic atau penelitian filosofis.

B. Pengertian Pendekatan filosofis
Secara harfiah, kata filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta kepada kebenaran, ilmu dan hikmah. Selain itu, filsafat dapat pula berarti mencari hakikat sesuatu, berusaha menautkan sebab dan akibat serta berusaha menafsirkan pengalaman-pengalaman manusia. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, Poerwadarminta mengartikan filsafat sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai sebab-sebab, asas-asas, hukum dan sebagainya terhadap segala yang ada di alam semesta ataupun mengenai kebenaran dan arti ”adanya” sesuatu.
Jika melihat definisi yang diberikan oleh dua orang yang mula-mula mencintai kebijakan, Plato dan Aristoteles, kita dapat mulai melihat bagaimana kemungkinan-kemungkinan itu dapat dimengerti. Plato mendeskripsikan filsuf sebagai orang yang siap merasakan setiap bentuk pengetahuan, senang belajar dan tidak pernah puas. Aristoteles juga memberikan suatu defenisi filsafat sebagai ”pengetahuan mengenai kebenaran” . Sedangkan Sextus Empiricius menyatakan bahwa filsafat adalah suatu aktivitas yang melindungi kehidupan yang bahagia melalui diskusi dan argumen. Maka unsur kunci yang menyusun ”cinta pada kebijakan’ adalah kemauan menjaga pikiran tetap terbuka, kesediaaan membaca secara luas, dan mempertimbangkan seluruh wilayah pemikiran dan memiliki perhatian pada kebenaran. Semua itu bagian dari suatu aktivitas atau proses dimana dialog, diskusi, dan mengemukakan ide dan argumen merupakan intinya. Dengan kata lain, ”cinta pada kebijakan” ini adalah suatu komitmen, suatu kemauan mengikuti sesuatu atau alur pemikiran atau suatu ide sampai pada kesimpulan-kesimpulannya, namun setiap langkah proses itu selalu terbuka untuk ditentang selalu terbuka untuk dibuktikan salah. Kesimpulan-kesimpulan yang dicapai bersifat sementara dan tentatif.
Pengertian filsafat yang umumnya digunakan adalah pendapat yang dikemukakan Sidi Gazalba. Menurutnya filsafat adalah berpikir secara mendalam, sistematik, radikal dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti, hikmah atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada. Dengan demikian dapat diketahui bahwa filsafat pada intinya adalah upaya atau usaha untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada dibalik objek formanya. Filsafat mencari sesuatu yang mendasar, asas, dan inti yang terdapat dibalik yang bersifat lahiriah. Sebagai contoh, kita jumpai berbagai merek pulpen dengan kualitas dan harganya yang berbeda, namun inti semua pulpen itu adalah sebagai alat tulis. Ketika disebut alat tulis, maka tercakuplah semua nama dan jenis pulpen. Louis O. Kattsof mengatakan, bahwa kegiatan kefilsafatan ialah merenung, tetapi merenung bukanlah melamun, juga bukan berfikir secara kebetulan yang bersifat untung-untungan, melainkan dilakukan secara mendalam, radikal, sistematik dan universal. Mendalam artinya dilakukan sedemikian rupa hingga dicari sampai ke batas di mana akal tidak sanggup lagi. Radikal artinya sampai ke akar-akarnya hingga tidak ada lagi yang tersisa. Sistematik maksudnya adalah dilakukan secara teratur dengan menggunakan metode berpikir tertentu, dan universal maksudnya tidak dibatasi hanya pada suatu kepentingan kelompok tertentu, tetapi untuk seluruhnya.
Sedangkan filsafat setelah memasuki ranah “agama” terjadi sedikit pergeseran makna dari yang disebutkan di atas. Misalnya, dalam kajian agama kristen Dalferd menyatakan bahwa tugas filsafat adalah melihat persoalan-persoalan yang melingkupi pengalaman manusia, faktor-faktor yang menyebabkan pengalaman manusia menjadi pengalaman religius, dan membahas bahasa yang digunakan umat beragama dalam membicarakan keyakinan mereka. Baginya, rasionalitas kerja reflektif agama dalam proses keimanan yang menuntut pemahaman itulah yang meniscayakan adanya hubungan antara agama dan filsafat. Dalam upaya agar agama terpahami baik upaya yang bersifat internal yakni upaya tradisi keagamaan mengeksplorasi watak dan makna keimanan maupun upaya eksternal yakni upaya menjelaskan dan mengartikulasikan makna itu bagi mereka yang tidak berada dalam tradisi, agama tidak dapat dipisahkan dari filsafat. Keterkaitan antara keduanya terfokus pada rasionalitas, kita dapat menyatakan bahwa suatu pendekatan filosofis terhadap agama adalah suatu proses rasional. Yang dimaksud “proses rasional” ini mencakup dua hal. Pertama, kita menunjukkan fakta bahwa akal memainkan peran fundamental dalam refleksi pengalaman dan keyakinan keagamaan dalam suatu tradisi keagamaan. Kedua, kita menunjukkan fakta bahwa dalam menguraikan keimanannya, tradisi keagamaan harus dapat menggunakan akal dalam memproduksi argumen-argumen logis dan dalam membuat klaim-klaim yang dapat dibenarkan.
Sedangkan dalam kajian Islam berpikir filosofis tersebut selanjutnya dapat digunakan dalam memahami agama, dengan maksud agar hikmah, hakikat atau inti dari ajaran agama dapat dimengerti dan dipahami secara saksama. Pendekatan filosofis ini sebenarnya sudah banyak dilakukan sebelumnya, diantaranya Muhammad al Jurjawi yang menulis buku berjudul Hikmah Al Tasyri’ wa Falsafatuhu. Dalam buku tersebut Al Jurjawi berusaha mengungkapkan hikmah yang terdapat di balik ajaran-ajaran agama Islam, misalnya ajaran agama Islam mengajarkan agar melaksanakan sholat berjamaah dengan tujuan antara lain agar seseorang dapat merasakan hikmahnya hidup secara berdampingan dengan orang lain, dan lain sebagainya. Makna demikian dapat dijumpai melalui pendekatan yang bersifat filosofis. Dengan menggunakan pendekatan filosofis seseorang akan dapat memberi makna terhadap sesuatu yang dijumpainya, dan dapat pula menangkap hikmah dan ajaran yang terkandung di dalamnya. Dengan cara demikian ketika seseorang mengerjakan suatu amal ibadah tidak akan merasa kekeringan spiritual yang dapat menimbulkan kebosanan. Semakin mampu menggali makna filosofis dari suatu ajaran agama, maka semakin meningkat pula sikap, penghayatan, dan daya spiritualitas yang dimiliki seseorang. Melalui pendekatan filosofis ini, seseorang tidak akan terjebak pada pengamalan agama yang bersifat formalistik, yakni mengamalkan agama dengan susah payah tapi tidak memiliki makna apa-apa, kosong tanpa arti. Yang didapatkan dari pengamalan agama hanyalah pengakuan formalistik, misalnya sudah haji, sudah menunaikan rukun Islam kelima dan berhenti sampai disitu saja. Tidak dapat merasakan nilai-nilai spiritual yang terkandung di dalamnya. Namun demikian pendekatan filosofis ini tidak berarti menafikan atau menyepelekan bentuk pengamalan agama yang bersifat formal. Filsafat mempelajari segi batin yang bersifat esoterik, sedangkan bentuk (forma) memfokuskan segi lahiriah yang bersifat eksoterik.
Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memerlukan pendekatan filosofis dalam memahami ajaran agamanya.
Dari pemaparan di atas penulis mencoba untuk merumuskan pengertian dari pendekatan filosofis. Menurut penulis pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak.

C. Karakteristik Prinsipil Pendekatan filosofis
Jhon Hick menyatakan bahwa pemikiran filosofis mengenai agama bukan merupakan cabang teologi atau studi-studi keagamaan, melainkan sebagai cabang filsafat. Dengan demikian filsafat agama merupakan suatu “aktivitas keteraturan kedua” yang menggunakan perangkat-perangkat filsafat bagi agama dan pemikiran keagamaan. Pernyataan Hick memberikan suatu cara yang menarik kepada kita dalam membahas apa gambaran karakteristik pendekatan filosofis. Pada umumnya kita dapat menyatakan pendekatan-pendekatan filosofis memiliki empat cabang:
1. Logika
Berasal dari bahasa Yunani logos, secara literal logika berarti “pemikiran atau akal”, logika adalah seni argumen rasional dan koheren. Seperti telah kita lihat, kita semua marah ketika seseorang menentang sesuatu yang kita yakini atau kita mengemukakan semua alasan untuk membenarkan posisi kita. Logika merasuk ke seluruh proses berargumentasi dengan seseorang menjadikannya lebih cermat dan meningkat proses tersebut.
Semua argumen memiliki titik pangkal, argumen-argumen itu memerlukan pernyataan pembuka untuk memulai. Dalam logika, pernyataan pembuka ini disebut premis. Premis adalah apa yang mengawali argumen. Salah satu premis yang paling terkenal dalam filsafat agama adalah yang dikemukan Anselm : ‘ Tuhan adalah sesuatu yang tidak ada hal lebih besar yang dapat dipikirkan selain dia”. Ketika berkaitan dengan argumen, seorang filsuf akan melihat premis untuk mengetahui apakah suatu argumen itu benar atau salah, dan apakah ia koheren, karena jika premisnya keliru, tidak ada argumen yang dapat dibangun darinya.
Dari premis, argumen berkembang dalam serangkaian tahapan sampai kita mencapai suatu kesimpulan. Argumen Anselm, berkembang dengan cara sebagai berikut :
Langkah 1 : terdapat sesuatu yang dapat dipahami, namun pemahaman itu sangat berbeda dari keberadaannya yang sesungguhnya
Langkah 2 : jika (sesuatu) hanya ada dalam pemahaman maka dimungkinkan juga memikirkan keberadaannya dalam realitas, dan itu lebih besar.
Langkah 3 : jika sesuatu yang lebih besar daripada sesuatu yang tidak ada hal lain yang lebih besar darinya, hanya dapat dipikirkan (maha besar) bahwa ia ada dalam pemahaman maka sesuatu yang lebih besar daripada sesuatu yang tidak ada hal lain yang lebih besar darinya yang dapat dipikirkan adalah sesuatu yang lebih kecil daripada sesuatu yang lebih besar yang dapat dipikirkan.
Langkah 4 : ini jelas tidak mungkin
Kesimpulan : tidak ada keraguan bahwa sesuatu yang lebih kecil daripada sesuatu yang lebih besar yang tidak dapat dipikirkan, ada dalam pemahaman dan realitas.
Seorang filsuf akan menguji masing-masing tahap yang disebut langkah-langkah logis untuk melihat apakah secara logika tahapan-tahapan itu saling mengikuti satu sama lain. Akhirnya filsuf akan melihat apakah konsisten dengan premis dan tahapan-tahapan logisnya.
Maka seorang logikawan, akan mengambil segala apa yang dikatakan seseorang dan menguraikannya dalam bentuk tahap demi tahap sederhana. Ketika berargumentasi dengan seseorang, coba tentukan premis apa yang dijadikan titik pijak, bagaimana mereka membangun argumennya dan bagaimana mereka sampai pada kesimpulan. Ini diterapkan dalam banyak argumen, dan dalam kaitan dengan agama, suatu pendekatan filosofis, secara teliti menguji seluruh aspek argumen yang diajukan orang beragama. Proses ini memiliki dua keuntungan disatu sisi, proses ini dapat memperlebar friksi yang mungkin terjadi antara orang-orang yang terlibat dalam satu argumen, juga memperlihatkan bahwa anda tidak tertarik membuat komentar personal tetapi hanya concern dengan kekuatan apa yang telah dikatakan. Di sisi lain, semua argumen harus bertahan atau jatuh karena di belakangnya memiliki penalaran yang baik. Proses ini memungkinkan kita melihat secara pasti bentuk penalaran apa yang digunakan dalam argumen tertentu. Kemampuan berargumen dengan cara begini merupakan keahlian yang dicapai secara gradual melalui praktik, dan merupakan perbuatan yang bermanfaat, mempersingkat apa yang dikatakan seseorang ke dalam bagian-bagian yang rinci.
2. Metafisika
Istilah ini pertama kali digunakan tahun 60 SM oleh filsuf Yunani Andronicus. Metafisika terkait dengan hal yang paling dasar, pertanyaan-pertanyaan fundamental tentang kehidupan, eksistensi, dan watak ada (being) itu sendiri, secara literal metafisika berarti kehidupan, alam, dan segala hal. Metafsiska mengemukakan pertanyaan tentang apakah sesungguhnya aku, sebagai seorang pribadi, apakah aku tubuh materiil, otak yang akan berhenti dari keberadaannya ketika mati? Atau apakah aku itu suatu jiwa, suatu entitas tanpa bentuk terpisah? Atau apakah benar terletak antara keduanya? Metafisika mengemukakan pertanyaan-pertanyaan tentang “siapakah aku” sebagai seorang pribadi : apakah yang menjadikan aku sebagai aku? Apakah aku pribadi yang sama 5, 10, dan 15 tahun yang lalu? Apakah aku akan menjadi pribadi ketika aku berusia 40, 50, dan 60 tahun? Apa yang menjadikan sebagai pribadi yang sama? Apakah ini persoalan memori, jika ya, bagaimana jika aku kehilangan memori? Atau apakah ini persoalan hiasan fisik, sehingga bagaimanapun juga aku harus selalu memiliki bentuk fisik? Metafisika mempertanyakan eksistensi : apakah yang dimaksud dengan ada? Apakah aku ada? Apakah dudung ada? Apakah dudung ada dalam pengertian yang sama dengan keberadaanku? Apakah Tuhan ada? Dalam pengertian bagaimana Tuhan ada?
Aspek aktivitas filosofis ini menunjukkan concern pada komprehensif. Tidak ada sesuatu pun yang berada di luar wilayah perhatian filsafat, bagi filsuf segala sesuatu adalah penting. Ini melindungi dari digunakannya pandangan “menutup mata” atau berat sebelah dalam hal-hal tertentu, filsuf harus menyadari segala sesuatu yang memang atau mungkin penting bagi persoalan yang sedang dihadapi. Dan hal ini diterapkan dalam pendekatan filosofis terhadap agama, yang dengan sendirinya berkaitan misalnya dengan pertanyaan-pertanyaan ontologism (studi tentang ada atau eksistensi, termasuk eksistensi Tuhan), pertanyaan-pertanyaan kosmologis (argumen-argumen yang terkait dengan asal usul dan tujuan dunia, termasuk pengaruh yang ditimbulkan oleh ilmu) dan pertanyaan-pertanyaan tentang humanitas (watak dan status manusia dan komunitas manusia, termasuk watak subjektivitas).

3. Epistemologi
Epitemologi menitikberatkan pada apa yang dapat kita ketahui, dan bagaimana kita mengetahui. Epistemologi memberi perhatian pada pengetahuan dan bagaimana kita memperolehnya. Plato misalnya berpendapat tidak mungkin memperoleh pengetahuan, dan dia menggunakan apa yang dia sebut dengan “paradok Meno” guna menunjukkan mengapa “ seseorang tidak dapat menyelidiki apa yang dia tahu karena dengan mengasumsikan bahwa ia tahu berarti ia tidak perlu menyelidiki, demikian juga ia tidak dapat menyelidiki apa yang tidak dia ketahui karena dia tidak tahu apa yang harus diselidiki.
Inti dari pernyataan Plato adalah bahwa ketika kita sampai pada pengetahuan, kita tidak pernah memulainya dari permulaan. Seluruh pertanyaan yang kita ajukan, segala sesuatu yang kita ketahui, memiliki serombongan besar praanggapan dan keyakinan yang telah ada sebelumnya. Seluruh yang kita kerjakan dan ketahui terletak dalam suatu konteks praanggapan dan keyakinan yang luas dan sering tidak dipertanyakan. Tidak sesuatupun dimulai dari daftar yang bersih. Segala sesuatu selalu dibangun berdasar sesuatu lainnya. Plato juga menunjukkan bahwa penelitian dan pencarian pengetahuan tidak pernah berhenti, jawaban terhadap pertanyaan kita menjadi dasar bagi seluruh pertanyaan selanjutnya, dan begitu seterusnya. Bagi Plato, pengetahuan adalah persoalan mengingat segala sesuatu yang telah dipelajari dalam kehidupan sebelumnya, bagi kita sekarang pengetahuan adalah persoalan proses penelitian dan penemuan. Proses ini hanya akan berhenti jika kita secara sewenang-wenang dan artificial menjadikannya berhenti. Itulah mengapa kesimpulan yang kita capai hanya dapat bersifat tentatif dan sementara.
Tugas epistemologi adalah menemukan bagaimana pengetahuan berbeda dari keyakinan dan pendapat? Apakah pengetahuan dan keyakinan berbeda secara esensial? Jika saya berkata “saya meyakini dia berbohong padaku”, itu merupakan pernyataan yang lebih lemah dibanding jika saya mengatakan “saya tahu dia berbohong padaku”. Sekarang lihatlah pernyataan ini dalam konteks berbeda. Orang beriman berkata”saya meyakini Tuhan ada”, apakah ini sama dengan pernyataan “saya tahu Tuhan ada”. Menyatakan “saya meyakini Tuhan ada” dan “saya tahu Tuhan ada” tampak merupakan dua pernyataan yang berbeda, apa yang menjadikan sesuatu sebagai keyakinan berbeda dari apa yang menjadikan sesuatu sebagai sebuah pengetahuan. Beberapa umat beragama menyatakan “mengetahui” bahwa Tuhan ada, namun apa yang mereka ketahui? Dengan kata lain, kapan kita dapat menyatakan kita mengetahui sesuatu? Dan dimana persoalan kebenaran mengenai apa yang kita tahu itu muncul? Apakah keyakinan-keyakinan yang kita pegang dapat menjadi benar atau salah? Atau apakah ini secara tepat yang menjadikannya keyakinan, yakni bahwa kita tidak dapat menunjukkannya benar atau salah, hanya mungkin dan tidak mungkin, lebih berpeluang atau kurang berpeluang.

4. Etika
Secara harfiah etika berarti studi tentang “perilaku” atau studi dan penyelidikan tentang nilai-nilai yang dengannya kita hidup, yang mengatur cara kita hidup dengan lainnya, dalam satu komunitas lokal, komunitas nasional, maupun komunitas global internasional. Etika menitikberatkan perhatian pada pertanyaan-pertanyaan tentang kewajiban, keadilan, cinta, dan kebaikan. Dan dalam etika sebagai concern general, muncul perhatian pada praktik-praktik partikular dalam masyarakat, maka kita memiliki perhatian khusus pada etika bisnis, etika medis, etika kerja, dan etika politik. Semua itu kadang disebut sebagai persoalan yang termasuk dalam etika terapan dengan kata lain ia menerapkan ide-ide, teori-teori, dan prinsip-prinsip etika general pada wilayah-wilayah partikular, dan spesifik dalam kehidupan dan kerja manusia.
Dalam kaitan dengan studi agama, etika terlihat jelas dalam “kehidupan keagamaan”, aturan-aturan dan prinsip-prinsip yang menerangkan tentang cara kehidupan religius. Apa yang menjadi sumber dan dari mana asal usul aturan itu? Apa sumber dan asal usul moralitas? Beberapa orang beriman mengatakan bahwa Tuhan adalah sumber moralitas, dan prinsip-prinsip yang mereka ikuti dalam kehidupan mereka adalah baik karena Tuhan menyatakannya sebagai baik. Akan tetapi apakah yang terjadi seandainya Tuhan menyatakan bahwa pembunuh itu baik? Apa yang terjadi seandainya Tuhan memerintahkan orang untuk membunuh orang lain? Haruskah itu disebut baik? Dalam menanggapi hal ini, umat beragama sering mengatakan bahwa Tuhan tidak akan memerintahkan membunuh orang lain, tetapi dalam pernyataan ini, mereka menunjukkan bahwa Tuhan juga tunduk pada satu kode moral dan karenanya Tuhan bukan sumber moralitas. Akan tetapi jika Tuhan bukan pembuat moralitas, lalu siapa? Apakah anda menjadi agamis jika anda hidup dalam suatu kehidupan moral? Apakah ateis itu moral? Apa kaitan antara moralitas dan agama?
Pada umumnya, di sini terdapat empat wilayah yang menghiasi aktivitas filsafat sebagai suatu disiplin akademik, dan bagaimana aktivitas filosofis mendekati studi agama. Ini adalah bentuk aktivitas filosofis yang paling banyak dilakukan orang di Barat. Dan dalam bentuk inilah perdebatan dan persoalan karakteristik itu muncul.

D. Filsafat dalam Islam
Dalam bahasa Arab dikenal kata “hikmah dan hakim”, kata ini bisa diterjemahkan dengan arti “filsafat dan filosof”. Kata “hukamul islam” bisa berarti “falasifatul islam”. Hikmah adalah perkara tertinggi yang bisa dicapai oleh manusia dengan melalui alat-alat tertentu, yaitu akal dan metode berpikirnya. Dalam Al Quran surat Al Baqarah : 256, dinyatakan :
                  
269. Allah menganugerahkan Al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

Datangnya hikmah itu bukan dari penglihatan saja, tetapi juga dari penglihatan dan hati, atau dengan mata hati dan pikiran yang tertuju kepada alam yang ada disekitarnya. Karena itu kadangkala ada orang yang melihat tetapi tidak memperhatikan (melihat dengan mata hati dan berpikir). Terhadap orang tersebut Allah menyatakan antara lain dalam QS. Al Hajj ayat 46 :
 •          
46. Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.
Agama Islam memberi penghargaan yang tinggi terhadap akal, tidak sedikit ayat-ayat al Quran yang menganjurkan dan mendorong supaya manusia banyak berpikir dan menggunakan akalnya. Di dalam Al Quran dijumpai perkataan yang berakar dari kata ‘aql (akal) sebanyak 49 kali, yang semuanya dalam bentuk kata kerja aktif, seperti aquluh, ta’qilun, na’qil, ya’qiluha, dan ya’qilun. Dan masih banyak lagi kata yang di pakai dalam Al Quran yang menggambarkan perbuatan berpikir diantaranya: nazhara (QS. Al Thariq : 5-7), tadabbara (QS. Shaad :29), tafakkara, faqiha, tadzakkara dan lain sebagainya. Selain itu di dalam Al Quran juga terdapat sebutan-sebutan yang memberi sifat berpikir bagi seorang muslim, diantaranya ulu al bab (QS. Yusuf: 111), ulu al abshar (QS. An Nur : 44), ulu al nuha (QS. Thaha : 128), dan lain-lain.
Semua bentuk ayat-ayat tersebut mengandung anjuran, dorongan bahkan perintah agar manusia banyak berpikir dan menggunakan akalnya. Hal ini menunjukkan bahwa agama Islam mendorong dan bahkan memerintahkan kepada pemeluknya supaya berfilsafat.
Disamping anjuran dan dorongan untuk berfilsafat dapat dipahami dari pengertian kata “ayat” itu sendiri. Kata “ayat” sendiri erat kaitannya dengan perbuatan berpikir. Arti asal dari kata “ayat” adalah tanda. Sebagaimana diketahui bahwa tanda itu menunjukkan kepada sesuatu yang terletak di belakang tanda itu. Tanda itu harus diperhatikan, dipikirkan, diteliti dan direnungkan, baik secara filosofis maupun ilmiah, untuk mengetahui arti yang terletak dibelakangnya.
Di dalam Al Quran, ayat dalam arti tanda itu juga dipakai terhadap fenomena alam yang banyak disebut dalam ayat kauniyah atau ayat tentang kosmos. Sebagai contoh, dalam QS. Al Baqarah : 164
•       •        ••       •                     
164. Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Dari firman Allah tersebut dapat dipahami bahwa di dalam kosmos ini penuh dengan tanda-tanda yang harus diperhatikan, diteliti dan dipikirkan serta direnungkan oleh manusia, baik secara ilmiah maupun filosofis, untuk mengetahui rahasia yang terletak di belakang tanda-tanda itu. Pemikiran secara mendalam terhadap tanda-tanda tersebut akan membawa kepada pemahaman tentang fenomena-fenomena alam sendiri dan akhirnya membawa kepada keyakinan yang mantap terhadap adanya Tuhan Pencipta Alam semesta dan hukum alam (sunnatullah) yang mengatur perjalanan alam.
Manusia adalah makluk berfikir, yang dalam segala aktifitas kehidupannya selalu berujung kepada mencari kebenaran tentang sesuatu. Misalnya dalam mencari jawaban tentang hidup, berarti dia mencari kebenaran tentang hidup. Jadi dengan demikian manusia adalah makluk pencari kebenaran. Dalam proses pencarian kebenaran ini manusia menggunakan tiga instrumen, yaitu dengan agama, filsafat dan dengan ilmu pengetahuan. Antara ketiganya mempunyai titik persamaan, perbedaan dan titik singgung.
Titik persamaannya adalah, bahwa baik agama, filsafat, maupun ilmu mempunyai tujuan yang sama yaitu sama-sama mencari kebenaran. Agama, memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang Tuhan, manusia, maupun alam. Filsafat, memberikan jawaban baik tentang alam, manusia (yang belum atau tidak dapat dijawab oleh ilmu, karena diluar jangkauannya), maupun tentang Tuhan. Sedang ilmu pengetahuan memberikan jawaban tentang alam dan segala isinya.
Titik perbedaannya adalah ketiga-tiganya mempunyai sumber yang berbeda. Agama, bersumber kepada wahyu sehingga kebenarannya bersifat mutlak. Sedangkan filsafat dan ilmu pengetahuan bersumber ra’yu (akal, budi, dan rasio) manusia, sehingga kebenarannya bersifat nisbi. Manusia mencari kebenaran malalui agama dengan jalan mencari jawabannya dalam kitab suci. Filsafat mencari kebenaran dengan jalan berpikir secara radikal, integral dan universal. Sedangkan ilmu pengetahuan mencari kebenaran dengan jalan riset, empiris dan eksperimen.
Titik singgungnya adalah tidak semua masalah yang dipertanyakan manusia dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan karena ilmu terbatas dalam arti terbatas oleh subyek peneliti, obyek dan oleh metodologinya. Tidak semua masalah yang tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan bisa dijawab oleh filsafat dengan sendirinya karena jawaban filsafat bersifat spekulatif. Sedangkan agama menjawab berbagai masalah asasi yang tidak terjawab oleh ilmu pengetahuan dan filsafat.

E. Aplikasi Pendekatan Filosofis Dalam Kajian Islam
Untuk membawa pendekatan filosofis dalam tataran aplikasi kita tidak bisa lepas dari pengertian pendekatan filosofis yang bersifat mendalam, radikal, sistematik dan universal. Karena sumber pengetahuan pendekatan filosofis adalah rasio, maka untuk melakukan kajian dengan pendekatan ini akal mempunyai peranan yang sangat signifikan. Untuk memperjelas hal ini, penulis akan coba memaparkan contoh kajian keagamaan tentang takdir dengan menggunakan pendekatan ini.
Kata takdir (taqdir) terambil dari kata qaddara berasal dari akar kata qadara yang berarti mengukur, memberi, kadar atau ukuran. Jika dikatakan bahwa Allah telah menakdirkan sesuatu, harus dipahami dalam makna Allah telah menetapkan ukuran, kadar, batas tertentu terhadap sesuatu itu. Takdir dapat juga diterjemahkan sebagai sistem hukum ketetapan Tuhan untuk alam raya atau singkatnya disebut sebagai hukum alam. Sebagai "hukum alam", maka tidak ada satupun gejala alam yang terlepas dari Dia, termasuk amal perbuatan manusia. Pengertian ini dapat dilihat pada firman Allah yang artinya, Dan Dia ciptakan segala sesuatu, maka dibuat hukum kepastiannya sepasti-pastinya.
Kesan yang sama juga dapat diperhatikan pada ayat-ayat berikut ini :
        
Artinya: Dan matahari beredar pada tempat peredarannya. Demikianlah takdir (taqdir) yang telah ditentukan Allah SWT Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.
Perhatikan juga ayat berikut ini :
               •   
Artinya:. Yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu baginya dalam kekuasaan(Nya), dan dia Telah menciptakan segala sesuatu, dan dan DIA menetapkan atasnya qadar (ketetapan) dengan sesempurna-sempttrnanya (faqaddarahti taqdira).
Djohan Effendi setelah menganalisis ayat-ayat yang berbicara tcntang takdir menyatakan bahwa, "takdir ilahi pada hakikatnya adalah hukum ilahi yang berlaku pada seluruh alam semesta ". Dalam hubungan ini Al-Qur'an menyebutkan ungkapan lain, yaitu din Ilahi yang kepada-Nya dunia bahkan manusia menundukkan dirinya tanpa ada kemungkinan berbuat lain.
Agaknya Djohan membedakan "takdir Ilahi" pada alam (non manusia) dengan takdir yang berlaku pada manusia. Takdir Ilahi yang berlaku pada alam, bersifat pasti dan berbentuk pemaksaan, sedangkan pada manusia tidak demikian. Melihat ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa dalam Al-Qur'an, kata-kata takdir yang digunakan dalam berbagai ayat mengacu pada benda-benda alam (non manusia) yang bermakna kadar, ukuran dan batasan. Matahari beredar pada porosnya, ini adalah ukuran atau kadar untuk matahari sehingga ia tidak dapat keluar dari ukuran tersebut. Api telah ditetapkan ukurannya untuk membakar benda-benda yang kering, inilah batasan atau takdir bagi api. Air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah dan tidak bisa sebaliknya. Inilah ukuran dan batasan pada air.
Berkenaan dengan manusia, menurut Djohan, takdir bukanlah belenggu wajib yang menentukan untung atau malangnya seseorang, yang membagi manusia diluar kehendak dirinya, sebagai orang baik atau orang jahat dalam pengertian moral dan agama, melainkan lebih merupakan hukum atau tata aturan Ilahi yang mengikat dan mengatur kehidupan manusia, jasmani dan ruhani, baik sebagai makhluk individu maupun makhluk sosial.
Sebagai contoh, tidak ada manusia di muka bumi ini yang telah ditetapkan Tuhan menjadi jahat atau baik, sehingga ia tinggal menjalaninya saja tak ubahnya seperti robot. Kalaupun pada akhirnya ia menjadi jahat atau baik, itu merupakan keputusan yang diambilnya sendiri, dan penyebabnya adalah hal-hal yang terdapat di dalam dirinya dan bukan di luar dirinya. Sampai di sini, Djohan menyimpulkan bahwa takdir pada manusia bermakna kebebasan moral, suatu kualitas atau sikap pribadi yang tidak bergantung pada dan ditentukan di luar dirinya. Dengan penjelasan di atas, jelaslah bahwa takdir itu bermakna ketentuan, ketetapan, batasan, dan ukuran. Pada alam, ukuran dan ketetapan tersebut bersifat pasti sedangkan pada manusia bermakna hukum-hukum Tuhan yang universal.

F. Penutup
Islam sebagai agama yang banyak menyuruh penganutnya mempergunakan akal pikiran sudah dapat dipastikan sangat memerlukan pendekatan filosofis dalam memahami ajaran agamanya. Pendekatan filosofis adalah cara pandang atau paradigma yang bertujuan untuk menjelaskan inti, hakikat, atau hikmah mengenai sesuatu yang berada di balik objek formanya. Dengan kata lain, pendekatan filosofis adalah upaya sadar yang dilakukan untuk menjelaskan apa dibalik sesuatu yang nampak. Memahami ajaran Islam dengan pendekatan filosofis ini dimaksudkan agar seseorang melakukan pengamalan agama sekaligus mampu menyerap inti, hakikat atau hikmah dari apa yang diyakininya, bukan sebaliknya melakukan tanpa makna. Diantara cabang-cabang filsafat adalah metafisika, logika, epistemologi, dan etika.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar