Kamis, 26 Mei 2011

ILMUAN-ILMUAN MUSLIM DAN PENEMUANNYA

BAB I
PENDAHULUAN
Dalam dunia sains dan pengetahuan, khususnya di zaman modern sekarang ini, sangatlah nyata dan besar nilainya bagi perkembangan peradaban dunia saat ini. Dimasa lalu misalnya, kita memiliki para ilmuan muslim yang amat jitu keandalannya di bidang ilmu pengetahuan
Ini berarti, jauh sebelum para ilmuan barat menemukan teori dan ilmu pengetahuan, para ilmuan muslim telah menemukannya dimasa lalu, hanya karena distorsi sejarah, kemudian penemuan para ilmuan muslim ini tak sampai kepada kita, karena di plagiat dan diklaim oleh ilmuan barat dikemudian hari sebagai hasil temuan mereka
Yang cukup menggembirakan kita dan tentunya saja sebagai pelajaran berharga bagi kita adalah bahwa selain mereka sebagai pakar ternama dan penemu dibidang sains dan ilmu pengetahuan, para ilmuan muslim itu juga sangat mahir dalam hal ilmu agama. Dalam berbagai penelitian yang mereka lakukan nyaris tak terlupakan kajian dan riset mereka diberi sentuhan dan semangat spiritual
Sehingga model seperti inilah yang menghasilkan ilmu pengetahuan yang ramah lingkungan, berdaya manfaat itnggi serta tidak kosong akan nilai-nilai moral dan etika. Sebab apabila ilmu pengetahuan yang sama sekali kosong dari nilai nilai spiritual dan sentuhan moral niscaya hanya akan membuahkan malapetaka tak berkesudahan seperti yang kita lihat akhir-akhir ini .yang seharusnya ilmu pengetahuan menjadi kesejahteraan menuju peradaban umat manusia justru akan berbalik menjadi sumber malapetaka dunia, kecanggihan nuklir, bom atom, dan sejenisnya, karena tidak disertai dengan semangat spiritual, etika, kemanusiaan maka penggunaannya pun menjadi laknat dan bencana berkepanjangan bagi umat manusia.
Dalam sebuah litratur Mantan Presiden Amerika , Richard Nixon dalam bukunya America, challenge in one superworld, mengatakan secara jujur bahwa barat “ owe so much’ (berhutang banyak pada Islam). Maka ini sekali lagi menandakan akan mumpuninya para ilmuan islam masa lalu Akan tetapi beberapa dasawarsa sekarang banyak sekali diantara kita (baca; Umat muslim) yang tak mengenal para ilmuan islam dalam perjalanan sejarah sains dimasa lalu sehingga klaim dunia barat seakan menjadi pengetahuan umum yang merasuk ke dalam cakrawala berfikir umat islam, sehingga dengan hadirnya makalah ini mungkin bisa memberikan sedikit pengetahuan akan tokoh-tokoh muslim yang telah menoreh tinta emas di peradaban dunia.















BAB II
ILMUAN-ILMUAN MUSLIM DAN PENEMUANNYA
A. Muhammad Al Biruni (Penemu Gaya Gravitasi)
a. Biografi dan Perjalanan
Namanya tak diragukan lagi di pentas sains dan ilmu pengetahuan abad pertengahan. Dunia sains mengenalnya sebagai salah seorang putra Islam terbaik dalam bidang filsafat, astronomi, kedokteran, dan fisika. Wawasan pengetahuannya yang demikian luas, menempatkannya sebagai pakar dan ilmuwan Muslim terbesar awal abad pertengahan. Ilmuwan itu tak lain adalah Al-Biruni. Bernama lengkap Abu Raihan Muhammad ibn Ahmad Al-Biruni, ilmuwan besar ini dilahirkan pada bulan September tahun 973 M, di daerah Khawarizm, Turkmenistan. Ia lebih dikenal dengan nama Al-Biruni. Nama “Al-Biruni” sendiri berarti ‘asing’, yang dinisbahkan kepada wilayah tempat tanah kelahirannya, yakni Turkmenistan. Kala itu, wilayah ini memang dikhususkan menjadi pemukiman bagi orang-orang asing.
Dibesarkan dalam keluarga yang taat beragama, Al-Biruni tumbuh dan besar dalam lingkungan yang mencintai ilmu pengetahuan. Tak seperti kebanyakan ilmuwan Muslim lainnya, masa muda Al-Biruni tak banyak terlacak oleh sejarah. Meski demikian, dari beberapa literatur diketahui, ilmuwan besar ini memperoleh pendidikan dasarnya dari beberapa ulama ternama di masanya, antara lain Syeikh Abdus Shamad bin Abdus Shamad. Di bidang kedokteran, ia belajar pada Abul Wafa’ Al-Buzayani, serta kepada Abu Nasr Mansur bin Ali bin Iraq untuk ilmu pasti dan astronomi. Tak heran bila ulama tawadlu dan gemar baca-tulis ini sudah tersohor sebagai seorang ahli di banyak bidang ilmu sejak usia muda.
Sebagai ilmuwan ulung, Al-Biruni tak henti-hentinya mengais ilmu, termasuk dalam setiap penjelajahannya ke beberapa negeri, seperti ke Iran dan India. Jamil Ahmed dalam Seratus Tokoh Muslim mengungkapkan, penjelajahan paling terkesan tokoh ini adalah ke daerah Jurjan, dekat Laut Kaspia (Asia Tengah), serta ke wilayah India. Penjelajahan itu sebenarnya tak disengaja. Alkisah, setelah beberapa lamanya menetap di Jurjan, Al-Biruni memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Namun tak disangkanya, ia menyaksikan tanah kelahirannya itu penuh konflik antar etnis. Kenyataan ini dimanfaatkan oleh Sultan Mahmoud Al-Gezna, yang melakukan invasi dan menaklukkan Jurjan. Keberhasilan penaklukkan ini membawa Al-Biruni melanglang ke India bersama tim ekspedisi Sultan Mahmoud. Di sini, ia banyak menelorkan karya tulis, baik berupa buku maupun artikel ilmiah yang disampaikannya dalam beberapa pertemuan. Selain menghasilkan karya, penjelajahan bersama sang Sultan ini juga menghasilkan dibukanya kawasan India bagian timur sebagai basis baru dakwah Islam Al-Biruni.
Dalam rangkaian perjalanannya di India ini, Al-Biruni memanfaatkan waktu luang bagi penelitian sekitar adat istiadat dan perilaku masyarakat setempat. Dari penelitiannya inilah, beberapa karya berbobot lahir. Tak hanya itu, Al-Biruni pula yang pertama memperkenalkan permainan catur ‘ala’ India ke negeri-negeri Islam, serta menjelaskan problem-problem trigonometri lanjutan dalam karyanya, Tahqiq Al-Hind. Dalam kaitan ini, ia berkata, “Saya telah menerjemahkan ke dalam bahasa Arab dua karya India, yakni Sankhya, yang mengupas tentang asal-usul dan kualitas benda-benda yang memiliki eksistensi, dan kedua berjudul Patanial (Yoga Sutra), yang berhubungan dengan pembebasan jiwa.” Kedua buku India ini juga memuat secara otentik sejarah akurat invasi Sultan Mahmoud ke India.
Kepiawaian dan kecerdasan Al-Biruni merangsang dirinya mendalami sekitar ilmu astronomi. Ia misalnya memberikan perhatian yang besar terhadap kemungkinan gerak bumi mengitari matahari. Sayangnya, bukunya yang membicarakan soal ini hilang. Namun ia berpendapat, seperti pernah ia sampaikan dalam suratnya kepada Ibnu Sina, bahwa gerak eliptis lebih mungkin daripada gerak melingkar pada planet. Al-Biruni konsisten mempertahankan pendapatnya tersebut, dan ternyata di kemudian hari terbukti kebenarannya menurut ilmu astronomi modern.
Sebagai sosok yang gemar membaca dan menulis, kepakaran Al-Biruni tak hanya di bidang ilmu eksakta. Ia juga mahir dalam disiplin filsafat. Karena itu, ia dikenal sebagai salah seorang filsuf Muslim yang amat berpengaruh. Pemikiran filsafat Al-Biruni banyak dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Al-Farabi, Al-Kindi, dan Al-Mas’udi (w. 956 M). Hidup sezaman dengan filsuf besar dan pakar kedokteran Muslim, Ibnu Sina, Al-Biruni banyak berdiskusi dengan Ibnu Sina, baik secara langsung maupun melalui surat menyurat. Keduanya tak jarang terlibat debat sekitar pemikiran filsafat. Ia misalnya menentang aliran paripatetik yang dianut oleh Ibnu Sina dalam banyak aspek. Al-Biruni memperlihatkan ketidaktergantungan yang agak besar terhadap filsafat Aristoteles dan kritis terhadap beberapa hal dalam fisika paripatetik, seperti dalam masalah gerak dan tempat.
Semua yang dilakukannya itu selalu ia landaskan pada prinsip-prinsip Islam, serta meletakkan sains sebagai sarana untuk menyingkap rahasia alam. Hasil eksperimen dan penelitiannya selalu bermuara pada pengakuan keberadaan Sang Pencipta (Allah). Ketika seorang ilmuwan, katanya, akan memutuskan untuk membedakan kebenaran dan kepalsuan, dia harus menyelidiki dan mempelajari alam.
Kalau pun ia tidak membutuhkan hal ini, maka ia perlu berpikir tentang hukum alam yang mengatur cara-cara kerja alam semesta. Ini akan dapat mengarahkannya untuk mengetahui kebenaran dan membuka jalan baginya untuk mengetahui Wujud yang mengaturnya. Dalam bukunya Al-Jamahir, Al-Biruni juga menegaskan, ”penglihatan menghubungkan apa yang kita lihat dengan tanda-tanda kebijaksanaan Allah dalam ciptaan-Nya. Dari penciptaan alam tersebut kita menyimpulkan eksistensi Allah.” Prinsip ini dipegang teguh dalam setiap penyelidikannya. Ia tetap kritis dan tidak memutlakkan metodologi dan hasil penelitiannya. Pandangan Al-Biruni ini berbeda sekali dengan pandangan saintis Barat modern yang melepaskan sains dari agama. Pandangan mereka tentang alam berusaha menafikan keberadaan Allah sebagai pencipta.
Keberhasilan Al-Biruni di bidang sains dan ilmu pengetahuan ini membuat decak kagum kalangan Barat. Max Mayerhof misalnya mengatakan, “Abu Raihan Muhammad ibn Al-Biruni dijuluki Master, dokter, astronom, matematikawan, ahli fisika, ahli geografi, dan sejarahwan. Dia mungkin sosok paling menonjol di seluruh bimasakti para ahli terpelajar sejagat, yang memacu zaman keemasan ilmu pengetahuan Islam.” Pengakuan senada juga dilontarkan sejarahwan asal India, Si JN Sircar. Seperti dikutip Jamal Ahmed, ia menulis, “Hanya sedikit yang memahami fisika dan matematika. Di antara yang sedikit itu yang terbesar di Asia adalah Al-Biruni, sekaligus filsuf dan ilmuwan. Ia unggul sekaligus di kedua bidang tersebut.” Tokoh dan ilmuwan besar ini akhirnya menghadap Sang Ilahi Rabbi pada 1048 M, dalam usia 75 tahun.

b. Al-Biruni dan Karya
Laiknya para ilmuwan Muslim generasi sebelum dan sesudahnya, Al-Biruni juga dikenal sebagai penulis dan pemikir yang produktif. Menariknya lagi, sebagian karya-karyanya tersebut dihasilkan ketika berpetualang ke beberapa negeri. Menurut sumber-sumber otentik, karya Al-Biruni lebih dari 200 buah, namun hanya sekitar 180 saja yang diketahui dan terlacak. Beberapa di antara bukunya terbilang sebagai karya monumental. Seperti buku Al-Atsarul Baqiyah ‘anil Qurunil Khaliyah (Peninggalan Bangsa-bangsa Kuno) yang ditulisnya pada 998 M ketika ia merantau ke Jurjan, daerah tenggara Laut Kaspia. Dalam karyanya tersebut, Al-Biruni antara lain mengupas sekitar upacara-upacara ritual, pesta, dan festival bangsa-bangsa kuno.
Masih dalam lingkup yang sama, Al-Biruni tak menyia-nyiakan kesempatan beberapa ekspedisi militer ke India bersama Sultan Mahmoud Gezna. Ia pergunakan lawatannya tersebut dengan melakukan penelitian seputar adat istiadat, agama, dan kepercayaan masyarakat India. Selain itu, ia juga belajar filsafat Hindu pada sarjana setempat. Jerih payahnya inilah menghasilkan karya besar berjudul Tarikhul Al-Hindy (Sejarah India) tahun 1030 M. Intelektual Iran, Sayyed Hossein Nasr, dalam Science and Civilization in Islam (1968), menyatakan, buku ini merupakan uraian paling lengkap dan terbaik mengenai agama Hindu, sains, dan adat istiadat India.
Al-Biruni, dalam karyanya ini antara lain menulis analisis menarik, bahwa pada awalnya manusia mempunyai keyakinan monoteisme, penuh kebaikan dan menyembah Tuhan Yang Mahaesa. Tapi, lantaran nafsu murka telah membawa mereka pada perbedaan agama, filsafat, dan politik, sehingga mereka menyimpang dari monoteisme ini. Ia juga membahas tentang geografi India. Al-Biruni juga berpendapat, lembah Sungai Hindus dan India, mulanya terbenam dalam laut, namun perlahan menjadi penuh endapan yang dibawa air sungai.
Tak hanya menulis buku tentang sosiologi, Al-Biruni juga banyak menulis tentang ilmu-ilmu eksakta seperti geometri, aritmatika, astronomi, dan astrologi. Karya di bidang ini misalnya Tafhim li Awa’il Sina’atut Tanjim. Khusus disiplin ilmu astronomi, ia menulis buku berjudul Al-Qanun Al-Mas’udi fil Hai’ah wan Nujum (Teori tentang Perbintangan). Di Barat, buku ini memperoleh penghargaan dan menjadi bacaan standar di berbagai universitas Barat selama beberapa abad. Ilmuwan Muslim ini juga dikenal sebagai pengamat pertambangan. Untuk masalah ini, ia menulis buku Al-Jamahir fi Ma’rifatil Jawahir tahun 1041 M.
Karya lainnya, di bidang kedokteran berjudul As-Saydala fit Thib (Farmasi dalam ilmu Kedokteran), Al-Maqallid ‘Ilm Al-Hai’ah (tentang perbintangan), serta buku Kitab Al-Kusuf wal Khusuf ‘Ala Khayal Al-Hunud (Kitab tentang Pandangan Orang-orang India terhadap Peristiwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan)
B. Ibnu Hitsam (Penemu Teori Pengelihatan)
a. Biografi dan Perjalanannya
Al-Hasan bin al-Haitsam merupakan salah seorang ilmuwan Muslim terkemuka dan memiliki prestasi yang cukup tinggi di antara para ilmuwan di bidang ilmu pengetahuan. Bagaimanapun, agak dikesalkan bahawa beliau tidak mendapatkan haknya; namanya terkubur dan tidak mendapatkan kedudukan yang selayaknya walhal beliau memiliki keunggulan dan ketrampilan cukup hebat yang tidak difahami oleh para ahli sejarah peradaban Islam dan penulis buku-buku sejarah.
Justeru itu, beliau dua kali dizalimi; dizalimi oleh generasi Muslim sendiri, dan yang lebih parah beliau dizalimi oleh para ilmuwan dan sejarawan Barat yang telah merampas kekayaan intelektualnya, kerana namanya diganti dengan nama mereka. Dengan demikian, beliau telah diletakkan pada tempat yang tidak sepatutnya di antara para ilmuwan sepanjang sejarah.
Nama sebenarnya beliau ialah Abu Al-Hassan bin Al-Haitsam. Beliau dikenal dengan panggilan Al-Basri. Beliau dilahirkan pada tahun 354 H (965 M) di kota Basrah, Iraq. Beliau meninggal dunia pada tahun 430 H (1039 M) di Kaherah. Beliau pertama kali belajar ilmu di Basrah, kemudian di Baghdad. Di Baghdad, beliau mendalami ilmu-ilmu berkaitan dunia Arab dan agama. Selain itu, beliau juga mendalami ilmu matematik, astronomi, kedoktoran, dan falsafah. Pada usia 30 tahun, beliau berkunjung ke Mesir atas undangan Khalifah Dinasti Fatimiyah, Al-Hakim Biamrillah.
Beliau menghabiskan sebahagian besar waktunya di Kaherah. Di kota inilah beliau banyak menjalankan kajian yang berkaitan dengan bidangnya dan menulis banyak buku. Beliau menjalani hidup di Kaherah dalam keadaan sederhana dan tawaduk, yang mana beliau hanya tinggal di sebuah bilik berhampiran pintu gerbang Masjid Al-Azhar.

b. Karya-karya
Ibnu al-Haitsam hidup pada zaman tiga ilmuwan besar, iaitu Al-Karkhi, Al-Biruni, dan Ibnu Sina. Ini memang suatu peristiwa yang ‘istimewa’, di mana pada satu masa atau zaman terdapat empat orang ilmuwan Muslim terkemuka.
Secara khusus, Ibnu al-Haitsam menonjol pada beberapa bidang seperti yang berikut:
• Ilmu matematik; yang meliputi ilmu hisab, algebra, geometri, dan hitungan trigonometri.
• Ilmu pengetahuan alam; terutama ilmu optik yang beliau sendiri menyebutnya sebagai ilmu “al-manazhir”.
• Ilmu falak atau ilmu astronomi.
Sebagian catatan Arab menyebutkan bahawa Ibnu Haitsam adalah orang pertama menemui kamera. Catatan ini pada kenyataannya terlalu dilebih-lebihkan dan menyalahi amanah ilmiah serta akan dibantah oleh Ibnul Haitsam andaikata beliau masih hidup. Apa yang benar adalah bahawa tokoh ilmuwan ini adalah penemu idea dan yang melakukan sehingga akhirnya ditemukan cara pembuatan kamera.
Terdapat 12 buah buku karya Ibnul Haitsam yang terkenal dalam ilmu optik. Di antara buku tersebut yang paling penting ialah Kitab Al-Manazhir yang mengandungi pelbagai penemuannya yang penting dalam ilmu optik. Buku ini telah diterjemahkan dalam bahasa Latin pada tahun 1572, dan diterbitkan di Basel, Switzerland, dengan judul Thesaurus Opticus (Rujukan Lengkap Dalam Ilmu Optik). Buku ini begitu besar pengaruhnya bagi pengembangan ilmu optik di Eropah. Di antara karya-karyanya yang lain dalam ilmu optik adalah seperti yang berikut:
• Risalah Fi Al-Ain Wa Al-Abshar
• Risalah Fi Al-Maraya Al-Muhriqah Bi Ad-Dawa’ir
• Risalah Fi In’ithaf Adh-Dhau
• Risalah Fi Al-Maraya Al-Muhriqah Bi Al-Quthu
• Kitab Fin Al-Halah Wa Qaus Qazah
Perlu diketahui bahawa buku-buku Al-Hasan bin Al-Haitsam dijadikan rujukan utama di Eropa dalam ilmu optik hingga abad ke-17. Seorang Ilmuwan Inggeris dalam bidang matematik dan teologi, dan tenaga pengajar di Universiti Cambridge, Issac Barrow (1630-1677) memberikan kuliah yang berkaitan Ibnu Haitsam. Manakala di antara mahasiswa pada ketika itu ialah Issac Newton yang kemudiannya menjadi ilmuwan terkenal di Barat hingga munculnya Einstein.

C. Ibnu Khaldun (Bapak Ilmu Sosiologi Politik)
Pemikiran dan teori-teori politiknya yang sangat maju telah mempengaruhi karya-karya para pemikir politik terkemuka sesudahnya, seperti Machiavelli dan Vico “ Ia mampu menembus ke dalam fenomena social sebagai filsuf dan ahli ekonomi yang dalam ilmunya’ Fakta inilah yang mendorong kita untuk melihat karya-karya beliau sebagai seni, yang berpandangan jauh dan kritis, sesuatu yang sama sekali tidak pernah dikenal pada masa hidupnya.
Siapa sejatinya pemikir dan ulama peletak dasar ilu sosiologi dan plitik melalui karya Al Muqadimah ini, Ia lahir di Tunisia pada 1 ramadhan 732 H/27 Mei 1332 dengan nama Abdurrahman bin Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Al Hasan bin Jabir bin Muhammad bin Ibrahim bin Abdurrahman bin Ibnu Khaldun. Moyangnya berasal dari Hadramaut, Yaman, yang bermigrasi ke Sevilla, Andalusia (Spanyol). Namun keluarganya harus pindah ketika Sevilla dikuasai oleh Kristen
Khaldun berasal dari keluarga intelektual, yang sedikit tertarik dengan persoalan politik. Ia biasa berjumpa dengan tokoh intelektual dari Afrika Utara dan Spanyol yang sebagian besar adalah pengungsi dari kekhalifahan timur.
Pendidikannya dilalui di Tunisia dan Fez (Maroko) dengan mempelajari berbagai ilmu, menghafal Al Qur`an, mempelajari tata bahasa, hokum islam (syariah), hadis, retorika, filologi, dan puisi. Selain itu, ia mempelajari sastra arab, filsafat, matematika, dan astronomi. Khaldun sangat terlibat dengan politik.
Karirnya di bidang politik membawanya keluar masuk istana, baik sebagai pemenang maupun pecundang maupun pecundang. Usia mudanya dihabiskan sebagai pendamping, penasihatsultan serta menduduki aneka jabatan. Pada umur 19 tahun, ia mulai mengabdi pada Ibnu Tafrakin, penguasa Tunis. Ketika Abu Zaid, penguasa Constantine menyerang dan mengalahkan Tunisia. Khaldun melepaskan diri ke Aba, lalu berpindah ke Aljazair dan menetap di Biskra.
Karirnya menanjak ketika ia membantu sultan Abu Salem dalam menjatuhkan Al-Mansur, musuh politiknya, ia diberi jabatan sekertaris selama lebih dari dua tahun, lalu ditugaskan sebagai kadi(hakim). Sultan Abu Salim tak lama kemudian dijatuhkan Wazir Omar, gagal mendapatkan kedudukan dalam pemerintahan yang baru, Ibnu Khaldun meninggalkan Fez pergi ke Andalusia
Kemelut untuk kesekian kalinya membawa Ibnu Khaldun berpindah ke Mesir, ia datang ke Aleksandria pada Oktober 1382 dalam usia 50 tahun, setelah gagal dalam perjalannya menuju tanah suci ia bahkan sempat mengajar di Al-Azhar dan sekolah lainnya sampai kemudian diangkat sebagai hakim.
Penguasa Mesir Sultan Faraj, menugaskannya untuk berunding dengan Timurlane, Penguasa Mongol yang hendak menginvasi Damaskus, misi berbahaya ini diselesaikannya dengan sukses sehingga dia mendapatkan banyak penghargaan.




Ibnu Khaldun dalam Karya
Sebagai seorang politisi, ia merupakan politisi yang cemerlang dan jitu karena berbagai konflik yang mampu diselesaikannya dengan baik, ini karena beliau menopang dirinya lewat analisis sosial yang cemerlang.
Ibnu Khaldun memetakan masyarakat dengan interaksi social, politik, ekonomi dan geografi yang melikupinya. Pendekatan ini dianggap menjadi sebuah terobosan yang sangat signifikan, menurutnya, organism dapat tumbuh dan matang, karena sebab-sebab nyata yang mempengaruhinya.
Pengaruh itu universal dan pasti, tak ada kebetulan dalam sejarah social kecuali sebab danb akibatnya semata. Sebagian jelas dan diketahui sebagaian lagi tidak. Formasi masyarakat, pikiran yang dituangkan dalam karya besarnya Muqaddimah, misalnya dikatakan sebagai hasrat manusia untuk berkumpul, bersaing, lalu memperebutkan kepemimpinan. Mereka diikat dengan solidaritas ashabiyah yang diarahkan oleh para pemimpinnya. Ia memperkirakan bahwa solidaritas itu berlansung empat generasi.
Model ini menempatkan Ibnu Khaldun sebagai penganut teori siklus sejarah. Masyarakat lahir, tumbuh, berkembang, lalu mati utnuk diganti dengan yang lain. Demikian seterusnya, karya monumentalnya itu juga berisi klasifikasi ilmu pengetahuan yang coba disusunnya, ia membedakan ilmu yang dipelajari, pertama ilmu filsafat dan intelektual (bisa dipelajari melalui akal dan intelejensi); kedua, ilmu yang ditransmisikan (disampaikan, hanya bisa disampaikan lewat mata rantainya yang berakhir pada pendirinya, biasanya ilmu agama dan wahyu ilahi).
Dalam konteks ini ilmu filsafat masuk dalam ilmu agama dan humanism Ibnu Khaldun menegaskan bahwa ilmu filsafat dan ntelektual terbagi kedalam berbagai bidang ; logika, ilmu alam atau fisika, ilmu matematika, ilmu yang berkaitan dengan kuantitas (missal geometri, aritmatika, music, astronomi)
Sementara ilmu yang ditransmisikan seperti al Qur`an, hadis, syariah, teologi, sufisme, ilmu bahasa; (linguistik, seperti tata bahasa, leksikografi, dan kesusteraan). Selain Muqaddimah, ia juga menulis kitab Al I`bar yang memuat sejarah arab, penguasa islam dan eropa di zamannya, sejarah kuno arab, yahudi, Romawi, Persia, Sejarah islam, sejarah Mesir dan Afrika Utara, khususnya suku Barber dan suku yang berdekatan lainnya. Kitab ini memuat tiga bab, pertama memuat karya monumentalnya, yakni Muqaddimah
Konstribusi Ibnu Khaldun dalam ilmu pengetahuan memang tidak sedikit, setidaknya, berkatnyalah dasar-dasar ilmu sosiologi politik dan filsafat dibangun. Tak heran jika warisannya itu banyak diterjemahkan keberbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia dan sekarang menjadi rujukan dari penulis makalah ini juga.
Seorang sejarawan barat, Dr Boer, menulis Ibnu Khaldun tak pelak lagi adalah orang pertama yang mencoba menerangkan dengan lengkap evolusi dan kemajuan suatu kemasyarakatan, dengan alasan adanya sebab dan factor tertentu, iklim, alat, produksi, dan lain sebagainya, serta akibat-akibatnya pada pembentukan cara berfikir manusia, dan pembentukan masyarakatnya. Dalam derap majunya peradaban dia mendapatkan keharmonisan yang terorganisasikan dalam dirinya sendiri.`

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar