Kamis, 26 Mei 2011

PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM PENGKAJIAN DAN PEMAHAMAN STUDI ISLAM

PENDEKATAN PSIKOLOGI DALAM PENGKAJIAN DAN PEMAHAMAN STUDI ISLAM
A. PENDAHULUAN
Apa yang menarik perhatian manusia? "One thing only interests all human being always, and that is the human being himself,." kata John M. Siddal, editor American Magazine (Miller, dalam Mott and others, 1969:62). Jadi hanya satu hal saja yang selalu menarik perhatian manusia, yaitu manusia itu sendiri. Memang, di antara sekian banyak segi kehidupan dunia yang telah diteliti manusia, yang paling menarik adalah manusia itu sendiri.
Ada juga yang mempunyai alasan mempelajari psikologi atau pengetahuan perilaku manusia itu, karena untuk lebih mengenal diri, mengenal siapa "aku" ini sebenarnya, dan dengan pengenalan ini, dia berusaha untuk menyesuaikan diri dengan orang lain: Di sini, kemudian muncul alasan lain, yaitu keinginan untuk bergaul dengan orang lain. Mereka harus tahu mengapa orang itu berpikir, berperasaan, dan berbuat menurut caranya sendiri-sendiri.
Dengan mempelajari psikologi, berarti ada usaha untuk mengenal manusia. Mengenal berarti dapat memahami; berarti pula kita dapat menguraikan dan menggambarkan tingkah laku dan kepribadian manusia beserta aspek-aspeknya. Dengan mempelajari psikologi, kita berusaha mengetahui aspek-aspek kepribadian (personality traits). Salah satu sikap kepribadian itu, misalnya, sikap keterbukaan, yaitu terbuka terhadap dunia luar, bersedia memahami perasaan orang lain (empati), dan lain sebagainya. Dan sikap ini bersifat menetap serta menjadi ciri bagi orang yang bersangkutan, yang merupakan sifat yang unik, yang individual dari orang tersebut.

B. SEJARAH ILMU PSIKOLOGI
Pada zaman sebelum Masehi, jiwa manusia sudah menjadi topik pembahasan para filsuf. Saat itu, para Filsuf sudah membicarakan aspek-aspek kejiwaan manusia dan mereka mencari dalil, pengertian, serta pelbagai aksioma umum, yang berlaku pada manusia. Ketika itu, psikologi memang sangat dipengaruhi oleh cara-cara berpikir filsafat dan terpengaruh oleh filsafatnya sendiri. Hal tersebut dimungkinkan karena para ahli psikologi pada masa itu adalah juga ahli-¬ahli filsafat atau para ahli filsafat waktu itu juga ahli psikologi. Sebelum tahun 1879, jiwa dipelajari oleh para filsuf dan para ahli ilmu faal (fisiologi), sehingga psikologi dianggap sebagai bagian dari kedua ilmu tersebut. Selain pengaruh dari ilmu faal, psikologi juga dipengaruhi oleh satu hal yang tidak sepenuhnya berhubungan dengan ilmu faal, meskipun masih erat hubungannya dengan ilmu kedokteran, yaitu hipnotisme.
Psikologi, dikukuhkan sebagai ilmu yang berdiri sendiri oleh Wilhelm Wundt dengan didirikannya Laboratorium Psikologi pertama di dunia, di Leipzig, pada tahun 1879. Sebelumnya, bibit-bibit psikologi sosial mulai tumbuh, yaitu ketika Lazarus & Steindhal pada tahun 1860 mempelajari bahasa, tradisi, dan institusi masyarakat untuk menemukan "jiwa umat manusia" (human mind) yang berbeda dari "jiwa individual".
Usaha Lazarus & Steindhal, yang sangat dipengaruhi oleh ilmu antropologi tersebut, kemudian dikembangkan oleh Wundt sendiri, yang pada tahun 1880, mulai mempelajari "Psikologi Rakyat" (Folk Psychology) dan menyejajarkannya dengan psikologi individual dalam eksperimen-¬eksperimennya. Eksperimen Wundt dalam bidang psikologi rakyat itu, antara lain, untuk menemukan "proses mental yang lebih tinggi" (higher mental process) dari kelompok atau rakyat, yang berbeda dari proses mental individual.
Yang diteliti dalam laboratorium psikologi tersebut, terutama mengenai gejala pengamatan dan tanggapan manusia, seperti persepsi, reproduksi, ingatan, asosiasi, dan fantasi. Tampak benar bahwa tokoh-tokoh psikologi eksperimental ini terutama meneliti gejala-gejala yang termasuk Bewusztseinpsychologie, atau gejala-gejala psikis yang berlangsung di dalam jiwa yang sadar bagi diri manusia itu, sesuai dengan rumusan Descartes mengenai jiwa, yaitu bahwa ilmu jiwa (psikologi) adalah ilmu pengetahuan mengenai gejala-gejala kesadaran manusia. Gejala-gejala jiwa "bawah sadar" belum diperhatikannya. Tokoh lain pada awal dijadikannya psikologi sebagai ilmu yang mandiri, selain Fechner, adalah Herman Ludwig Ferdinand von Helmholtz (1821¬1894). Helmholtz dikenal sebagai seorang empiriskus dengan keahlian dalam ilmu faal, fisika, dan psikologi. la dilahirkan di dekat Berlin di Potsdam. Ayahnya adalah seorang tentara yang kemudian menjadi guru dalam mata pelajaran filsafat dan bahasa (filologi).
Beberapa penemuan penting dari Helmholtz yang perlu dicatat adalah Tahun 1850, ia menghitung kecepatan jalannya impuls; tahun 1856, ia mengemukakan bahwa semua warna sebenarnya berasal dari tiga warna dasar, yaitu merah, hijau, dan biru; tahun 1863, ia mengemukakan bahwa perbedaan suara yang dapat kita dengar disebabkan adanya reseptor pada telinga bagian dalam (cochlea atau rumah siput), dan reseptor ini disebut membrana basillaris. Selain itu, ia juga banyak menyelidiki tentang pengamatan, kemudian ia mengemukakan suatu doktrin yang disebut unconscious inference atau unbewusster suhluse, yaitu penyimpulan terhadap suatu rangsang dipengaruhi oleh adanya; faktor-faktor yang tidak disadari. Apa yang masuk dalam pengamatan kita, kadang-kadang hanya samar atau mungkin hanya sebagian saja yang mastik dalam lapangan pengamatan kita. Meskipun demikian, kita dapat mangamati rangsang itu dengan jelas ataupun mengamati objek secara keseluruhan.

C. PENGERTIAN PSIKOLOGI
Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari Yunani, yaitu dari kata psyche yang berarti "jiwa", dan logos yang berarti ,"ilmu". Jadi, secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Begitulah, untuk rentang waktu yang relatif lama, terutama ketika psikologi masih merupakan bagian atau cabang dari filsafat, psikologi diartikan seperti pengertian tersebut. "Pada masa lampau," demikian kata Paul Mussen dan Mark R. Rosenzwieg dalam buku mereka, Psychology an Entroduction, "psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari mind (pikiran), namun dalam perkembangannya, kata mind berubah menjadi behavior (tingkah laku), sehingga psikologi didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tingkah laku manusia.
Ada dua macam pengertian Ilmu Jiwa yang dikemukakan oleh Gerungan, yaitu : lmu jiwa itu merupakan istilah bahasa indonesia sehari-hari dan dikenal tiap-tiap orang sehingga ilmu jiwa dapat digunakan dalam arti yang luas dan telah lazim dipahami orang, dan ilmu jiwa meliputi segala pemikiran, pengetahuan, tanggapan tetapi juga segala khayalan dan spekulasi mengenai jiwa itu.
Sekalipun sulit untuk memberikan jawaban atas pertanyaan apa sebenarnya jiwa itu namun pada kenyataannya manusia itu berjiwa. Sekalipun jiwa itu sendiri tidak tampak tetapi dapat dilihat dari keadaan-keadaan yang dapat dipandang sebagai gejala-gejala kehidupan kejiwaan. Mis, orang yang sedang menggerutu, suatu pertanda ada perasaan tidak senang dalam hatinya. Orang yang lari menandakan bahwa ada sesuatu yang harus diselesaikan atau menghidari sesuatu dan lainnya.
Untuk memberikan jawaban atas pertanyaan diatas, ada baiknya kita melihat lagi beberapa pendapat dari para ahli tentang apa yang dimaksud dengan psikologi.
1. Menurut Wundt (Devidoff,1981); Psikologi itu merupakan ilmu tentang kesadaran manusia (The Science of Human Consciouness). Dimana para ahli psikologi akan mempelajari proses-proses elementer dari kesadaran manusia itu. Unsur kesadaran merupakan hal yang dipelajari dalam psikologi.
2. Menurut Woodworth dan Marquis (1957); mengajukan pendapat bahwa yang dimaksud dengan psikologi itu merupakan ilmu tentang aktivitas-aktivitas individu dalam arti yang luas baik aktivitas motorik, kognitif maupun emosional.
3. Menurut Branca (1964); Dalam bukunya berjudul Psychology : The science of Behavior, telah jelas bahwa apa yang dimaksud dengan psikologi merupakan ilmu tentang prilaku dan dalam hal ini menyangkut prilaku pada manusia.
Senada dengan yang diungkapkan Branca dikemukakan lagi oleh Morgan (1984) yang menyatakan bahwa Psychology is the science of human and animal behavior, namun penerapan ilmu itu pada manusia. Demikian pula yang dikemukakan oleh Sartain (1967) yang menyatakan bahwa psikologi merupakan The science of human behavior. Apabila ditelaah pendapat dari Woodworth dan Marquis, Branca, Morgan serta Sartain jelas terlihat hal yang senada. Namun dengan penjelasan diatas menunjukkan bahwa para ahli tidak mempunyai kata sepakat dalam mendefinisikan apa itu psikologi.
Seperti yang telah dikemukakan diatas psikologi itu merupakan ilmu yang membicarakan tentang jiwa. Akan tetapi oleh karena jiwa itu sendiri tidak tampak, maka yang dapat dilihat atau diobservasi ialah prilaku atau aktivitas-aktivitas yang merupakan manivestasi atau penjelmaan kehidupan jiwa itu. Karena itu psikologi merupakan ilmu yang meneliti atau mempelajari tentang prilaku atau aktivitas-aktivitas yang merupakan manivestasi hidup kejiwaan. Prilaku atau aktivitas disini dalam arti yang sangat luas yaitu meliputi prilaku yang tampak/kelihatan (overt behavior) dan juga prilaku yang tidak tampak (innert behavior) atau menurut Woodworth ialah aktivitas motorik, kognitif dan emosional.


D. ALIRAN-ALIRAN DALAM PSIKOLOGI
1. Strukturalisme (Structuralism)
Struktur adalah sebuah bangunan yang terdiri atas berbagai unsur yang satu sama lain berkaitan. Dengan demikian, setiap perubahan yang terjadi pada sebuah unsur struktur akan mengakibatkan perubahan hubungan antarunsur tersebut. Jadi, hubungan antarunsur akan mengatur sendiri bila ada unsur yang berubah atau hilang. Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada awal berdirinya psikologi sebagai satu disiplin ilmu yang mandiri, psikologi didominasi oleh gagasan serta usaha mempelajari elemen-elemen dasar dari kehidupan mental orang dewasa normal, melalui penelitian laboratorium dengan menggunakan metode introspeksi. Pada masa itu, tercatat satu aliran psikologi yang disebut psikologi strukturalisme. Tokoh psikologi strukturalisme ini adalah Wilhelm Wundt.
Wundt dan pengikut-pengikutnya disebut strukturalis karena mereka berpendapat bahwa pengalaman mental yang kompleks itu sebenarnya adalah "struktur" yang terdiri atas keadaan-keadaan mental yang sederhana, seperti halnya persenyawaan-persenyawaan kimiawi yang tersusun dari unsur-unsur kimiawi. Mereka bekerja atas dasar premis bahwa bidang usaha psikologi itu, terutama, adalah menyelidiki "struktur" kesadaran dan mengembangkan hukum-hukum pembentukannya. Pendekatan mereka yang terutama ialah dengan analisis introspektif.
Seperti tercermin dalam namanya, aliran ini berpendapat bahwa untuk mempelajari gejala kejiwaan, kita harus mempelajari isi dan struktur kejiwaan. Kaum strukturalis, yang dipelopori oleh Wundt, menggunakan metode introspeksi atau mawas diri, yaitu orang yang menjalani percobaan diminta untuk menceritakan kembali pengalamannya atau perasaannya setelah ia melakukan suatu eksperimen. Misalnya, kepada orang percobaan ditunjukkan sebuah warna atau bentuk; setelah itu, ia diminta untuk mengatakan apakah bentuk itu indah atau tidak indah, menarik atau tidak menarik, dan sebagainya. Karena metode introspeksi ini, strukturalisme dapat juga disebut sebagai psikologi introspeksi (introspective psychology).
Ciri-ciri dari psikologi strukturalisme Wundt adalah penekanannya pada analisis atas proses kesadaran yang dipandang terdiri atas elemen¬-elemen dasar, serta usahanya menemukan hukum-hukum yang membawahi hubungan antarelemen kesadaran tersebut. Karena pandangannya yang elementalistik ini, psikologi strukturalisme disebut juga psikologi elementalisme. Selain dipandang terdiri atas elemen-elemen dasar, kesadaran, oleh Wundt dan oleh para ahli psikologi lainnya pada masa itu, dipandang sebagai aspek yang utama dari kehidupan mental. Segala sesuatu atau proses yang terjadi dalam diri manusia, selalu dianggap bersumber pada kesadaran.

2. Aliran Fungsionalisme (Functional Psychology)
Aliran psikologi ini merupakan reaksi terhadap strukturalisme.tentang keadaan-keadaan mental. Jika para strukturalis bertanya "Apa kesadaran itu", para fungsionalis bertanya "Untuk apa kesadaran itu". Apa tujuan dan fungsinya? Karena ingin mempelajari cara orang menggunakan pengalaman mental untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar, mereka disebut fungsionalis.
Fungsionalisme adalah suatu tendensi dalam psikologi yang menyatakan bahwa pikiran, proses mental, persepsi indrawi, dan emosi adalah adaptasi organisme biologis Drever (1988 menyebut fungsionalisme (functional Psychology) sebagai suatu jenis psikologi yang menggarisbawahi fungsi-fungsi dan bukan hanya fakta-fakta dari fenomena mental, atau berusaha menafsirkan fenomena mental dalam kaitan dengan peranan yang dimainkannya dalam kehidupan organisme itu, dan bukan menggambarkan atau menganalisis fakta-fakta pengalaman atau kelakuan; atau suatu psikologi yang mendekati masalah pokok dari sudut pandang yang dinamis, dan bukan dari sudut pandang statis.
Apa pun rumusan tentang fungsionalisme, aliran psikologi ini pada intinya merupakan doktrin bahwa proses atau keadaan sadar seperti kehendak bebas, berpikir, beremosi, memersepsi, dan mengindrai adalah aktivitas-aktivitas atau operasi-operasi dari sebuah organisme dalam kesalinghubungan fisik dengan sebuah lingkungan fisik dan tidak dapat diberi eksistensi yang penting. Aktivitas ini memudahkan kontrol organisme, daya tahan hidup, adaptasi, keterikatan atau penarikan diri, pengenalan, pengarahan, dan lain-lain. Seluruh organisme dapat dianalisis sebagai sebuah sistem umpan batik dan stimulus respons.
3. Aliran Psikoanalisis
Lahirnya aliran psikoanalisis dalam dunia psikologi oleh para ahli psikologi sering dianalogikan dengan revolusi Convernican dalam natural science; dicaci, ditolak, tapi pada akhirnya diagungkan. Kritik terhadap Sigmund Freud (1856-1940) sebagai "bapak psikoanalisis" lebih didasarkan pada metodenya yang dianggap tidak baku, subjektif, dan jumlah klien sedikit dan semuanya pasien klinis (penderita gangguan jiwa). Para penentang Freud tidak bisa menerima bahwa analisis dari para pasien sakit jiwa dapat digeneralisasikan pada populasi umum.
Di pihak lain, Freud dianggap banyak memberi kontribusi pada perkembangan psikologi, khususnya dalam hal mengembangkan konsep motivasi dari alam ketidaksadaran dan mengarahkan fokus penelitian pada pengaruh pengalaman masa awal kehidupan atau masa anak terhadap perkembangan kepribadian selanjutnya sampai dewasa. Di samping itu, Freud juga merangsang studi yang intensif tentang emosi, yaitu cinta, takut, cemas, dan seks.
Dalam soal seks, teori Freud yang menyatakan bahwa satu-satunya hal yang mendorong kehidupan manusia adalah dorongan id (libido seksualita), mendapat tantangan keras. Dalam libido seksualitas, seseorang berusaha mempertahankan eksistensinya karena bermaksud memenuhi hasrat seksualnya. Teori ini dipandang menyederhanakan kompleksitas dorongan hidup yang ada dalam diri manusia. Dalam pandangan psikologi humanistik, teori Freud hanya menjelaskan adanya kebutuhan yang paling mendasar dari manusia, yaitu kebutuhan fisiologis dan tak mampu memberikan penjelasan untuk empat kebutuhan manusia yang lain.
Tak ayal lagi, teori Freud yang banyak menyelidiki sexual instinct manusia ini merupakan daya tarik, sekaligus sumber kehebohan. Seksualitas, bagi Freud, merupakan daya hidup. Libido, istilah Freud, merupakan life instinct yang memberi motivasi manusia untuk makan, minum, beristirahat, dan prokreasi. Kaum agama dan sebagian intelektual, dengan sisa pengaruh Victorian yang kuat waktu itu mencaci (teori) Freud yang pen-seksual habis¬-habisan. Selain itu, Freud juga mengatakan bahwa dalam diri seseorang terdapat tiga sistem kepribadian, yang disebut Id atau Es, Ego atau Ich, dan Super-go atau Uber Ich. Id adalah bagian kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia - pusat insting.
Id selalu berprinsip memenuhi kesenangannya sendiri (pleasure principle), termasuk di dalamnya naluri, seks dan agresivitas (Sarwono, 1997:58). Meskipun Id mampu melahirkan keinginan, ia tidak mampu memuaskan keinginannya. Sistem kepribadian yang kedua ialah Ego. Ego berfungsi menjembatani tuntutan Id dengan realitas di dunia luar. Ego adalah mediator antara hasrat-hasrat hewani dan 'tuntutan rasional dan realistik. Ego-lah yang menyebabkan manusia mampu me~undukkan hasrat hewaninya dan hidup sebagai wujud yang rasional (pada pribadi yang normal). Ia bergerak berdasarkan prinsip realitas (reality principle).
Sistem kepribadian yang ketiga Super-Ego - berisi kata hati atau conscience. Kata hati ini berhubungan dengan lingkungan sosial dan mempunyai nilai-nilai moral, sehingga merupakan kontrol atau sensor terhadap dorongan-dorongan yang datang dari Id. Super-Ego menghendaki agar dorongan-dorongan tertentu saja dari Id yang direalisasikan; sedangkan dorongan-dorongan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai moral, tetap tidak dipenuhi. Karena itu, ada semacam kontradiksi antara Id dan Super Ego yang harus dapat memenuhi tuntunan kedua sistem kepribadian lainnya ini secara seimbang. Kalau Ego gagal menjaga keseimbangan antara dorongan dari Id dan larangan-larangan dari Super Ego, individu yang bersangkutan akan menderita konflik batin yang terus-menerus; dan konflik ini akan menjadi dasar dari neurose.
4. Aliran Psikologi Gestalt (Gestalt Psychology)
Berbagai istilah bahasa Inggris telah dicoba untuk menerjemahkan istilah Gestalt ini, antara lain Shape Psychology (diajukan oleh Spearman) dan Configurationism (diajukan oleh Titchener). Namun, istilah-istilah tersebut rupanya, tidak "pas"; dalam arti, tidak bisa menggambarkan arti yang sesungguhnya dari istilah itu dalam bahasa Jerman. Sebab itu, istilah Gestalt tetap digunakan sebagaimana adanya dalam bahasa Inggris dan juga oleh kalangan para ahli psikologi di Indonesia.
Eksperimen Gestalt pertama, menurut Atkinson clan kawan-kawan, adalah mempelajari gerakan, terutama fenomena phi. Jika dua cahaya dinyalakan secara berurutan (asalkan waktu dan lokasi spasialnya tepat), subjek melihat cahaya tunggal bergerak dari posisi cahaya pertama ke cahaya kedua. Fenomena kesan pergerakan ini telah banyak diketahui, tetapi ahli psikologi Gestalt menangkap kepentingan teoretis pola stimuli dalam menghasilkan efek. Pengalaman kita bergantung pada pola yang dibentuk oleh stimuli dan pada organisasi pengalaman, menurut mereka. Apa yang kita lihat adalah relatif terhadap latar belakang, dengan aspek lain dari keseluruhan. Keseluruhan berbeda dengan penjumlahan bagian-bagiannya; keseluruhan terbagi atas bagian dari suatu hubungan.
Memang, seperti disinggung di muka, bagi aliran Gestalt, yang utama bukanlah elemen, tetapi keseluruhan. Kesadaran dan jiwa manusia tidak mungkin dianalisis ke dalam elemen-elemen. Gejala kejiwaan harus dipelajari sebagai suatu keseluruhan atau totalitas. Keseluruhan, dalam pandangan aliran Gestalt, lebih dari sekadar penjumlahan unsur-unsurnya. Keseluruhan itu lebih dahulu ditanggapi dari bagian-bagiannya, dan bagian¬bagian itu harus memperoleh makna dalam keseluruhan. Arti atau makna Gestalt bergantung pada unsur-unsurnya; clan sebaliknya, arti unsur-unsur itu bergantung pula pada Gestalt.
5. Aliran Behaviorisme (Behaviorism)
Behaviorisme adalah sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson pada tahun 1913 dan digerakkan oleh Burrhus Frederic Skinner. Sama halnya dengan psikoanalisis, behaviorisme juga merupakan aliran yang revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Sejumlah filsuf dan ilmuwan sebelum Watson, dalam satu dan lain bentuk, telah mengajukan gagasan-gagasan mengenai pendekatan objektif dalam mempelajari manusia, berdasarkan pendekatan yang mekanistik dan materialistik, suatu pendekatan yang menjadi ciri utama dari behaviorisme. Seorang di antaranya adalah Ivan Pavlov (1849-1936), seorang ahli fisiologi Rusia.
Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap introspeksionisme (yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan-laporan subjektif) dan juga psikoanalisis (yang berbicara tentang alam bawah sadar yang tidak tampak). Behaviorisme ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur, dilukiskan, dan diramalkan. Belakangan, kaum behavioris lebih dikenal dengan teori belajar, karena menurut mereka, seluruh perilaku manusia, kecuali insting, adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh lingkungan. Tentu saja, behaviorisme tidak mau mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional, behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalikan oleh faktor-faktor lingkungan.
Skinner berpendapat, kepribadian terutama adalah hasil dari sejarah penguatan pribadi individu (individual's personal history of reinforcement). Meskipun pembawaan genetis (genetis endowment) turut berperan, kekuatan-kekuatan sangat menentukan perilaku khusus yang terbentuk dan dipertahankan, serta merupakan khas bagi individu yang bersangkutan. Skinner tidak tertarik dengan variabel struktural dari kepribadian. Menurutnya, orang mungkin berilusi dalam menjelaskan dan meramalkan perilaku berdasarkan faktor-faktor dalam kepribadian, tetapi ia dapat mengubah perilaku dan mengendalikannya hanya dengan mengubah ciri-ciri lingkungan.
6. Aliran Psikologi Kognitif
Psikologi kognitif adalah pendekatan psikologi yang memusatkan perhatian pada cara kita merasakan, mengolah, menyimpan, dan merespons informasi. Pendekatan kognitif dapat diterapkan pada hampir semua bidang psikologi. Pada bagian terakhir bab ini, kita akan melihat dua contoh pendekatan kognitif. Psikologi kognitif termasuk bidang studi utama yang berdiri sendiri dan sebagian besar isi bab ini disediakan untuk itu.
Dalam hal ini, ada baiknya bila pokok permasalahan psikologi kognitif diperjelas dengan lebih seksama. Secara umum, proses-proses kognitif dapat dibagi menjadi lima bidang studi: persepsi (perception), perhatian (attention), ingatan (memory), bahasa (language), dan berpikir (thinking). Persepsi adalah memasukkan dan menganalisa informasi dari dunia luar. Proses perhatian memungkinkan kita berkonsentrasi pada satu sumber informasi atau lebih dan tetap mempertahankan konsentrasi tersebut. Ingatan adalah simpanan informasi tentang fakta, kejadian, dan keterampilan. Bahasa meliputi penggunaan lambang-lambang sebagai alat komunikasi dan berpikir. Agak sulit untuk mendefinisikan berpikir, tetapi Groome et al. (1999) menyatakan, berpikir meliputi 'beragam aktivitas mental seperti memikirkan gagasan, mendapatkan ide-ide baru, membuat teori, memperdebatkan sesuatu, membuat Keputusan, dan memecahkan masalah.
7. Aliran Psikologi Humanistik
Psikologi humanistik berkembang sebagai pemberontakan terhadap yang dianggap sebagian ahli psikologi sebagai keterbatasan psikologi perilaku dan psikodinamika. Pada 1930-an dan 1940-an, para ahli teori perilaku membatasi semua tingkah laku manusia menjadi serangkaian respons yang dikondisikan, sementara ahli teori psikodinamika selalu memikirkan teori-teori kompleks mengenai pikiran bawah sadar. Aliran humanistik bertujuan memulihkan keseimbangan dalam psikologi dengan berfokus pada kebutuhan-kebutuhan manusia dan pengalaman manusia biasa lewat sesedikit mungkin teori. Karena itulah, meskipun pengaruhnya dalam psikologi kontemporer tidak sedahsyat nama-nama besar lainnya, pendekatan humanistik sering disebut "kekuatan ketiga" dalam psikologi. Tokoh yang paling berpengaruh, yaitu Carl Rogers dan Abraham Maslow.
Tujuan psikologi humanistik adalah membantu manusia memutuskan apa yang dikehendakinya dan membantu memenuhi potensinya. Artinya, praktek humanistik dalam terapi, pendidikan atau di tempat kerja, selalu dipusatkan untuk menciptakan kondisi-kondisi agar manusia dapat menentukan pikiran dan mengikuti tujuannya sendiri. Beberapa prinsip penting dalam psikologi humanistik yaitu:
 Manusia dimotivasi oleh adanya keinginan untuk berkembang dan memenuhi potensinya.
 Manusia bisa memilih ingin menjadi seperti apa, dan tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Kita semua bisa memutuskan bagaimana cara kita menjalani hidup. Penekanan pada kehendak bebas (free will) ini sangat berlawanan dengan pendekatan perilaku dan psikodinamika yang lebih menekankan pada apa yang menyebabkan kita berperilaku demikian (ini disebut determinisme).
 Kita dipengaruhi oleh cara pandang kita terhadap diri sendiri, yang berasal dari cara orang lain memperlakukan kita.

E. PENGKAJIAN PSIKOLOGI DALAM STUDI ISLAM
Dalam konteks studi islam, ada dua tipe pendekatan terhadap psikologi islami yaitu: Mengungkapkan bahwa yang dimaksud dengan psikologi dalam hubungannya dengan islam adalah konsep psikologi modern yang telah kita kenal selama ini yang telah mengalami proses filterisasi dan di dalamnya terdapat wawasan islam. Jadi, konsep-konsep atau teori aliran-aliran psikologi modern kita terima secara kritis, menurut pandangan ini, tugas kita adalah membuang konsep-konsep yang kontra atau yang anti terhadap islam.
Mereka berpandangan bahwa psikologi modern yang ada dan yang kita kenal pada selama ini bisa sja kita sebut Islami asalkan sesuai dengan pandangan islam. Salah satu aliran psikologi yang termasuk Islami adalah psikologi Humanistik. Seorang pemikir psikologi Islam berpandangan bahwa teori-teori Psikologi barat dapat kita manfaatkan dan dapat disebut psikologi Islami asalkan praktiknya berwawasan Islam. Ia mengungkapkan bahwa konsep tentang struktur kepribadian manusa yang dibangun oleh tokoh-tokoh modern seperti alam sadar, pra sadar dan tak sadar (psikoanalisis), afeksi, konasi & kognisi (Behavior) serta dimensi somatis, psikis dan neotik (Humanistik) dll, dapat kita pandang sebagai Islam setelah semua unsur dalam struktur kepribadian tersebut di ungkap dalam konsep ruh.
Dengan penekanannya pada pengembangan pribadi dan pentingnya pengalaman hidup individu di dunia, tradisi humanistik tergolong unik karena inilah satu-satunya pendekatan psikologi yang cocok dengan gagasan spiritualitas. Walaupun tidak semua pandangan ahli psikologi bersifat spiritual atau religius, walaupun Anda tidak harus menjadi seorang yang religius atau spiritual untuk menerapkan atau menarik manfaat dari psikologi humanistik, namun ada keterkaitan yang kuat antara pendekatan ini dengan keagamaan.
Berdasarkan penjabaran di atas, psikologi Islam di artikan sebagai perspektif modern dengan membuang konsep-konsep yang tidak sesuai dengan Islam. Psikologi adalah disiplin Ilmu yang sekuler dan karenanya memberikan wawasan Islam terhadap konsep psikologi modern adalah suatu cara agar konsep-konsep yang dipakai mengalami filterisasi dan tidak menyesatkan. Salah satu hal dalam psikologi yang berkaitan dengan dunia Islam sebagai berikut dalam Firman Allah (QS 41: 31), “kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri”. Ayat ini hendak mengungkapkan bahwa di alam semesta ini maupun dalam diri manusia terdapat sesuatu yang menunjukkan adanya tanda-tanda kekuasaan Allah. Yang di maksud dengan “sesuatu” tersebut adalah rahasia-rahasia tentang keadaan alam dan keadaan manusia, maka jadilah manusia sebagai makhluk yang berpengetahuan dan berilmu.
Dalam hal ini bisa kita lihat lebih dalam bahwa manusia memiliki peranan penting dalam Al-qur’an, kalau diperhatikan lebih cermat, salah satu istilah yang berkenaan dengan manusia yaitu nafs yang di sebut ratusan kali, belum lagi al-naas, al basyar, dan al-insaan. Istilah tersebut menunjukkan betapa Alqur’an banyak sekali berbicara tentang manusia. Secara kompleksitas, dan bisa dijadikan lahan kajian, dalam Al-qur’an banyak yg berbicara tentang diri manusia yang berkaitan dengan psikologi seperti, Nafs, Ruh, Aql, Qolb, Fitrah, Akhlak dsb. Jiwa atau Nafs bukanlah hal yang berdiri sendiri. Ia merupakan satu kesatuan dengan keadaan badan. Antara jiwa dan badan muncul suatu kesinambungan yang mencerminkan adanya totalitas dan unitas.
Secara garis besar, psikologi juga banyak kaitannya dengan agama, menurut Jalaludin dalam bukunya Psikologi Agama, psikologi agama merupakan cabang psikologi yang meneliti dan mempelajari tingkah laku manusia dalam hubungannya dengan pengaruh keyakinan terhadap agama yang dianutnya serta dalam kaitannya dengan perkembangan usia masing-masing. Menurt Prof Zakiyah Drajat, menyatakan bahwa lapangan penelitian psikologi agama mencakup proses beragama, perasaan dan kesadaran beragama dengan pengaruh dan akibat-akibat yang dirasakan sebagai hasil dari keyakinan (terhadap suatu agama yang di anut). Dalam hal ini bisa dikaitkan denga teori humanistik bahwasanya manusia adalah makhluk yang positif, manusia bisa memilih ingin menjadi seperti apa, dan tahu apa yang terbaik bagi dirinya. Dalam hal ini manusia bisa memilih akan menjalankan agama yang dianut seperti apa, mengikuti perasaan hati dan kesadaran atas apa yang dia kerjakan.
Seperti penjabaran di atas, hasil kajan ppsikologi juga dapat dimanfaatkan dalam berbagai lapangan kehdupan seperti kehidupan, seperti bidang pendidikan, interaksi sosial, perkembangan manusia dan lain sebagainya. Dalam bidang pendidikan di sini diartikan sebagai upaya sadar yang dilakukan oleh mereka yang memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan, bimbingan, pengembangan serta pengarahan potensi yang dimiliki anak agar mereka dapat berfungsi dan berperan sebagai hakikat kejadiannya. Jadi dalam pengertian pendidikan Islam ini tidak hanya dibatasi oleh institusi atau lapangan pendidikan tertentu, pendidikan Islam diartikan dalam ruang lingkup yang luas. Salah satu contohnya pendidikan dalam keluarga, pendidikan pertama pada anak adalah keluarga, dari keluarga anak belajar banyak hal seperti sopan-santun, belajar mengenal agama sampai pada tolerasi dan kasih sayang. Karena ibaranya keluarga merupakan lingkungan kecil yang membentuk suatu karakter pada diri anak. Oleh sebab itu diharapka orang tua sebagai pendidik sekaligus modelling bagi anak, dapat memberikan contoh yang baik, karena pada dasarnya anak belajar dari apa yang dia lihat, apa yang dia model, hal ini kaitannya dengan psikologi perilaku (behavior).

F. KESIMPULAN
Dari berbagai macam uraian di atas, definisi psikologi adalah: Secara etimologis, istilah psikologis berasal dari Yunani, yaitu dari kata psyche yang berarti "jiwa", dan logos yang berarti ,"ilmu". Jadi, secara harfiah, psikologi berarti ilmu jiwa, atau ilmu yang mempelajari tentang gejala-gejala kejiwaan. Psikologi itu merupakan ilmu yang membicarakan tentang jiwa. Akan tetapi oleh karena jiwa itu sendiri tidak tampak, maka yang dapat dilihat atau diobservasi ialah prilaku atau aktivitas-aktivitas yang merupakan manivestasi atau penjelmaan kehidupan jiwa itu. Karena itu psikologi merupakan ilmu yang meneliti atau mempelajari tentang prilaku atau aktivitas-aktivitas yang merupakan manivestasi hidup kejiwaan. Prilaku atau aktivitas disini dalam arti yang sangat luas yaitu meliputi prilaku yang tampak/kelihatan (overt behavior) dan juga prilaku yang tidak tampak (innert behavior) atau menurut Woodworth ialah aktivitas motorik, kognitif dan emosional.
Karena pada dasarnya psikologi adalah ilmu yang membahas tentang keadaan kejiwaan manusia, aktivitas kejiwaan yang tampak maupun yang tidak tampak. Oleh karena itu sangat erat sekali kaitannya dengan manusia dan Islam, bahkan dalam Al-Qur’an banyak sekali hal-hal yang dijelaskan berkaitan dengan Nafs, yaitu jiwa manusia. Hubungan psikologi dengan studi islam adalah banyak sekali dalam berbagai aspek kehidupan, dalam bidang pendidikan, sosial, perkembangan manusia, bahkan ada psikologi Agama, Psikologi Dzikir, Psikologi sosial dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA
Alwisol. 2005. Psikologi Kepribadian. Malang: UMM Press
Ancok, D. & Suroso. 1994. Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset
Jalaluddin. H. 2008. Psikologi Agama. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Sianturi, N. 2004. Materi Ajar Psikologi Umum. Hand Out Psikologi Umum
Watson J.B. (1913) Psychology as the behaviorist views it. Psychological Review 20, 158-177.
Walgito, B. 2000. Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi offset
Widyana, R. 2008. Psikologi Kognitif. Hand Out Psikologi Kognitif

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar