Selasa, 18 Januari 2011

Epistemologi Keilmuan Integratif - Interkonektif M. Amin Abdullah dan Relevansinya Bagi Ilmu Pendidikan (Islam)

Epistemologi Keilmuan Integratif - Interkonektif M. Amin Abdullah
dan Relevansinya Bagi Ilmu Pendidikan (Islam)

A.Pendahuluan
Sebuah kenyataan yang kita alami bersama bahwa disana ada sebagian masyarakat – bahkan sebagian besar masyarakat- yang memahami secara salah hubungan antara ilmu-ilmu agama dengan ilmu pengetahuan, dimana dipahami seakan ada jarak diantara keduanya yang tidak bisa di satukan dalam cara atau metode tertentu.Dimana kemudian dipahami bahwa Agama hanya mengurusi wilayah-wilayah ketuhanan,kenabian,aqidah , fikih, tafsir, hadis dan semisalnya. Yang pada gilirannya ilmu pengetahuan diletakan dalam bangunan lain di luar bangunan ilmu-ilmu Agama.Kemudian dimasukan kedalamnya misalnya ilmu biologi, fisika, matematika, kedokteran dan sejenisnya.Hal ini didukung pula kebijakan pendidikan pemerintah yang dikotomik.
Kenyataan diatas mengusik M. Amin Abdullah, untuk meluruskan , membenahi, mendobrak pemahaman diatas melalui bukunya Islamic Studies; Pendekatan Integratif-Interkonektif sebagai upaya dekonstruksi atau merombak ulang untuk kemudian ditata kembali frame berpikir masyarakat dalam melihat agama dalam relasinya dengan ilmu pengetahuan.
Ide dasarnya adalah, bahwa untuk memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia, setiap bangunan keilmuan apapun, baik keilmuan Agama, keilmuan sosial, humaniora, kealaman dan sebagainya, tidaklah dibenarkan bersikap single entity. Masing-masing harus saling bertegur sapa antara satu sama lain.Kerjasama,saling membutuhkan,saling koreksi,dan saling keterhubungan antar disiplin keilmuan akan lebih dapat membantu manusia memahami kompleksitas kehidupan dan memecahkan persoalan yang dihadapinya. Sebab, ketika bangunan-bangunan keilmuan itu saling membelakangi,tidak ada tegur sapa dan komunikasi maka hasilnya adalah kemunduran, akan tercipta misalnya seorang ilmuwan yang tak berakhlak dan merusak atau seorang Kyai yang tidak tahu perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akhirnya gampang dibodohi.
B. Tentang M. Amin Abdullah
Beliau adalah Prof. Dr. Muhammad Amin Abdullah, lahir di Margomulyo, Tayu, Pati, Jawa Tengah, 28 Juli 1953. Menamatkan Kulliyat Al-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI), Pesantren Gontor Ponorogo 1972 dan Program Sarjana Muda (Bakalaureat) pada Institut Pendidikan Darussalam (IPD) 1977 di Pesantren yang sama. Menyelesaikan Program Sarjana pada Fakultas Ushuluddin, Jurusan Perbandingan Agama, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, tahun 1982. Atas sponsor Departemen Agama dan Pemerintah Republik Turki, mulai tahun 1985 mengambil Program Ph.D. bidang Filsafat Islam, di Department of Philosophy, Faculty of Art and Sciences, Middle East Technical University (METU), Ankara, Turki (1990). Mengikuti Program Post-Doctoral di McGill University, Kanada (1997-1998).
Disertasinya, The Idea of University of Ethical Norms in Ghazali and Kant, diterbitkan di Turki (Ankara: Turkiye Diyanet Vakfi, 1992). Karya-karya ilmiah lainnya yang diterbitkan, antara lain: Falsafah Kalam di Era Postmodernisme (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995); Studi Agama: Normativitas atau Historisitas (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996). Dinamika Islam Kultural : Pemetaan atas Wacana Keislaman Kontemporer, (Bandung, Mizan, 2000); Antara al-Ghazali dan Kant : Filsafat Etika Islam, (Bandung: Mizan, 2002) serta Pendidikan Agama Era Multikultural Multireligius, (Jakarta: PSAP Muhammadiyah, 2005). Sedangkan karya terjemahan yang diterbitkan adalah Agama dan Akal Pikiran: Naluri Rasa Takut dan Keadaan Jiwa Manusiawi (Jakarta: Rajawali, 1985); Pengantar Filsafat Islam: Abad Pertengahan (Jakarta: Rajawali, 1989).
Bapak tiga anak ini ( Silmi, Gea, dan Dibba ) kini adalah dosen tetap Fakultas Ushuluddin, staf pengajar pada Program Doktor Pascasarjana IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Islam Indonesia, Program Magister pada UIN Sunan Kalijaga, Ilmu Filsafat, Fakultas Filsafat dan Program Studi Sastra (Kajian Timur Tengah), Fakultas Sastra, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Tahun 1993-1996, menjabat Asisten Direktur Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga; 1992-1995 menjabat Wakil Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengamalan Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Tahun 1998-2001 sebagai Pembantu Rektor I (Bidang Akademik) di almamaternya, IAIN Sunan Kalijaga. Pada Januari 1999 mendapat kehormatan menjadi Guru Besar dalam Ilmu Filsafat. Dari tahun 2002-2005 sebagai Rektor IAIN/UIN Sunan Kalijaga. Tahun 2005-2010 sebagai Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta untuk Periode kedua.
Dalam organisasi kemasyarakatan, dia menjadi Ketua Divisi Ummat, ICMI, Orwil Daerah Istimewa Yogyakarta, 1991-1995. Setelah Muktamar Muhammadiyah ke-83 di Banda Aceh 1995, diberi amanat sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam, Pimpinan Pusat Muhammadiyah (1995-2000). Kemudian terpilih sebagai salah satu Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Wakil Ketua (2000-2005).
Tulisan-tulisannya dapat dijumpai di berbagai jurnal keilmuan, antara lain Ulumul Qur’an (Jakarta), Al-Jami’ah: Journal of Islamic Studies (Yogyakarta) dan beberapa jurnal keilmuan keislaman yang lain. Di samping itu, dia aktif mengikuti seminar di dalam dan luar negeri. Seminar internasional yang diikuti, antara lain: “Kependudukan dalam Dunia Islam”, Badan Kependudukan Universitas Al-Azhar, Kairo, Juli 1992; tentang “Dakwah Islamiyah”, Pemerintah Republik Turki, Oktober 1993; Lokakarya Program Majelis Agama ASEAN (MABIM), Pemerintah Malaysia, di Langkawi, Januari 1994; “Islam and 21st Century”, Universitas Leiden, Belanda, Juni 1996; “Qur’anic Exegesis in the Eve of 21st Century”, Universitas Leiden, Juni 1998, ”Islam and Civil Society : Messages from Southeast Asia“, Tokyo Jepang, 1999; “al-Ta’rikh al- Islamy wa azamah al-huwaiyah”, Tripoli, Libia, 2000; “International anti-corruption conference”, Seol, Korea Selatan, 2003; Persiapan Seminar “New Horizon in Islamic Thought”, London, Agustus, 2003; “Gender issues in Islam”, Kualalumpur, Malaysia, 2003; “Dakwah and Dissemination of Islamic Religious Authority in Contemporarry Indonesia, Leiden, Belanda, 2003.
C. Kritik M. Amin Abdullah Terhadap Perkembangan Keilmuan Islam
Tidak ragu lagi,satu hal yang disepakati bersama bahwa inti ajaran Islam adalah al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW, yang juga merupakan dasar bagi keilmuan Islam,karena al-Qur’an dan as-Sunnah di yakini mengandung kebenaran mutlak yang bersifat transedental, universal dan eternal. Inti ajaran Islam ini berlaku sama di manapun ummat muslim berada dan kapanpun, mereka tidak akan pernah bisa lepas dari dua sumber tadi.Masalahnya kemudian adalah tingkat pemahaman, interpretasi, penghayatan, dan pelaksanaan norma-norma yang terkandung pada keduanya tidak sama antara satu tempat dengan tempat lainnya, antara satu zaman dengan zaman lainnya.Berbagai kondisi, suasana, budaya, bahasa dan factor sosio kultur lainnya mempengaruhi, yang dari perbedaan pemahaman ini sering melahirkan ketegangan-ketegangan antara ummat Islam itu sendiri.Disamping itu M. Amin Abdullah menyoroti pula problem keilmuan Islam “Klasik”,dalam mengurai berbagai persoalan empiric yang melekat dalam realitas kehidupan masyarakat modern seperti kemiskinan ,lingkungan hidup, kebodohan , keterbelakangn, penindasan dan lain-lain, yang dirasakan kurang mendapat porsi kepedulian yang menggigit dari pemikiran theology para ulama dan para pemikir Islam .
Dalam hal ini Amin Abdullah melihat setidaknya ada tiga hal yang harus dibenahi terkait masalah sebagaimana di atas, yaitu metode tafsir al-Qur’an, metode pemaknaan hadis dan pengkajian pemikiran keislaman.
Pertama, pembaharuan pemikiran terhadap tafsir al-Quran , bagi Amin Abdullah penafsiran al-Qur’an yang bersifat lexiografis , kata perkata, kalimat per kalimat, ayat dengan ayat, tanpa mempedulikan konteks social, politik, dan budaya ketika ayat itu turun dan bagaimana konteks social, ekonomi, politik, budaya pada era sekarang adalah pola dan metode penafsiran yang cocok untuk sebuah kitab suci yang di anggap sebagai corpus”tertutup,ahistoris.Yang kemudian di istilahkan sebagai tafsir “re-productive”dan kurang bersifat “productive”.Meski ummat Islam mempunyai ‘ulum al-Qur’an yang didalamnya ada studi asbab al-nuzul, yang jelas-jelas menerangkan adanya hubungan kausalitas yang positif antara pesan-pesan atau norma-norma dengan peristiwa-peristiwa social ekonomi politik dan budaya yang mengitarinya namun, menurut Amin Abdullah, eksplorasi terhadap asbab al-nuzul masih dirasa kurang.Sedang corak penafsiran al-Quran yang bersifat “productive”lebih menonjolkan perlunya memproduksi makna baru yang sesuai dengan tingkat tantangan perubahan dan perkembangan konteks social ekonomi,politik dan budaya yang melingkupi kehidupan ummat Islam kontemporer tanpa meninggalkan misi utama makna moral dan pandangan hidup al-Qur’an.
Kedua, pembaharuan pemikiran terhadap pemaknaan al-Hadis, menurut Amin Abdullah telah terjadi proses pembakuan dan pembekuan terhadap pemahaman dan pemaknaan al-Sunnah ( hadis),telah terjadi perubahan yang begitu mendasar dalam studi hadis dari tradisi lisan yang longgar , hidup dan fleksibel menjadi tradisi tertulis beku dan baku.Sebuah pandangan yang beliau nukil dari Fazlur Rahman dalm bukunya” Concept Sunnah , Ijtihad and Ijma’ in the Early Periode”.Jadi problemnya hamper sama dengan problem yang terjadi dalam menafsirkan al-Qur’an.Bagi Amin Abdullah hadis-hadis yang menyangkut persoalan politik social ekonomi dan budaya merupakan celah untuk dapat dilakukan kajian yang mendalam dan sekaligus perlunya pembaruan penafsiran,pemahaman, dan pemaknaan terhadap khasanah literature hadis,sebagai konsekwensi dari berbedanya setting social ekonomi budaya dan politik waktu munculnya hadis dengan kondisi sekarang. Berbeda dengan hal-hal yang terkait dengan persoalan ibadah murni seperti shalat puasa, haji, zakat dan semisalnya barangkali hadis-hadis tersebut adalah unik dan khas.
Ketiga,pembaruan pemikiran keislaman, Kalam, Fikih, Tassawuf, dan Filsafat.Empat kajian bidang pemikiran keislaman diatas adalah hasil dari beragam corak pemahaman ummat atas dua sumber utama Islam yaitu, al-Qr’an dan al-Hadis.Yang di latar belakangi oleh, tradisi berpikir, dan pengaruh sosiologis para penggiatnya yang bermacam-macam,selanjutnya munculah ragam kajian keislaman yang empat diatas.Dimana Kalam lebih menekankan aspek pembelaan dan pembenaran aqidah sectansiara sepihak sehingga coraknya lebih bersifat tegar,keras,agresif,defensive dan apologis lengket dengan teks-teks ( dalil al-Qur’an dan Sunnah).Fikih lebih mengatur sitem peribadatan kepada Allah Ta’ala seperti sholat,zakat ,puasa,haji yang seringkali juga merambah ranah lain dengan istilah fikih muamalat seperti, wakaf,jual beli ( ekonomi),peradilan atau tata Negara sekalipun.Sedang filsafat lebih menekankan aspek logika dalam pemikiran keislaman, berangkat dari premis-premis logis yang ada dibalik teks,mencari makna, subtansi dari pesan pesan dalam teks.Sedangkan tasawuf lebih menekankan pada aspek esoteric atau kedalaman spritualitas bathiniyah.Bagi sufi kalam dan fikih terlalu kering untuk menjangkau dahaga ruhiyah mereka.Keempat kluster keilmuan di atas mengalami ketegangan dalam hubungan di antara ke empatnya,bahkan terjadi pergesekan akademik dan rivalitas dimana pergesekan dan rivalitas ini mengerucut menjadi 2 kutub,kluster fikih dan kalam ( aqidah ) di satu pihak,versus tasawuf dan filsafat dipihak lain, yang menurut Amin Abdullah yang pertama bersifat final, closed Sistem,stationery,dan eksklusife dan kutub kedua bersifat open ended,open system,on going proces dan inklusif.Bahkan pada saat tertentu, pertentangan antara keduanya sedemikian keras sehingga seolah-olah keempat kluster tersebut tidak berasal dari poros dan sumber yang sama.
Dari paparan diatas di tangkap kritik dan kegelisahan Amin Abdullah,bahwa Amin Abdullah menyoroti sebuah problem yang diderita keilmuan Islam, yaitu tidak sinkronnya studi Islam dengan pendekatan ilmu-ilmu social,ekonomi,politik budaya dan lain-lain,isi normative Islam mati-matian lebih ditonjolkan ketimbang sisi historisnya.Pada gilirannya kajian itu tidak mujarab dalam mengurai berbagai persoalan empiric yang melekat dalam realitas kehidupan masyarakat modern seperti kemiskinan ,lingkungan hidup, kebodohan , keterbelakangn, penindasan dan lain-lain,dan dirasakan kurang mendapat porsi kepedulian yang menggigit dari pemikiran theology para ulama dan para pemikir Islam . Kurang komprehensif begitu kira-kira istilahnya seperti juga yang digelisahkan Mohammed Arkoun.
D. Sistem dan Metode Ilmu Yang Ditawarkan M. Amin Abdullah
Islam dan ummat Islam sebagai factor utama penyebab kemajuan peradaban manusia adalah sebuah kenyataan sejarah,meski juga keterbelakangan dan kelemahan yang melanda ummat Islam dewasa ini juga tidak bisa kita pungkiri.Upaya membangkitkan kembali peradaban Islam dipenuhi dengan berbagai wacana.Amin Abdullah menyorotinya dari segi keilmuan keagamaan dimana ia melihat tradisi keilmuan Islam tidak kunjung memberi pencerahan, ia berpendapat perlu adanya reformasi dalam metode pengkajian Islam.Amin melihat bahwasannya kemandulan Islam lebih disebabkan oleh tercerainya teks-teks keislaman dengan konteks sosial diamana corak yang populer digunakan dalam pengkajian Islam adalah corak yang dikotomis dan tekstualis, oleh karena itu corak pengkajian seperti ini harus di rubah dengan corak pengkajian yang integrated,komprehensif melibatkan multidisiplin keilmuan.
Jadi nuansanya adalah reintegrasi keilmuan atau penyatuan kembali atau yang dapat pula diartikan upaya menerima masukan dari berbagai sisi keilmuan, menerima keberadaan entitas lain dari ilmu yang sebenarnya berkaitan erat dengan ilmu keislaman lalu mengintegrasikannya menjadi formula yang efektif mengurai benang kusut berbagai masalah kekinian.
E. Bangunan Epistemologis Keilmuan Interkonektif-Integratif M. Amin Abdullah
Pola dikotomis keilmuan yang memisahkan antara ilmu-ilmu umum dan ilmu-ilmu agama adalah kenyataan yang terus ada dan berjalan sampai sekarang, di banyak benak masyarakat awam atau intelektual sekalipun.Diatas telah di singgung pemikiran integrasi dari Amin Abdullah dalam mengurai kenyataan pahit ini.Inti dari epistemologi ini adalah ide dan usaha dalam memunculkan dialog sekaligus kerjasama antar berbagai disiplin ilmu umum dan agama diamana bisa dicirikan dari model ini adalah dikedepankannya metode interdisipliner,interkonektifitas. Menurut Amin Abdullah gagasan ini adalah kelanjutan apa yang pernah dikembangkan Kuntowijoyo, yang kemudian oleh Amin Abdullah dikembangkan lebih lanjut dalam konteks studi keislaman di IAIN dan upaya pengembangannya lebih lanjut secara integrative dimasa depan.
Agama dalam arti luas merupakan wahyu Tuhan , yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan , diri sendiri, dan lingkungan hidup baik fisik social maupun budaya secara global,Seperangkat aturan-aturan,nilai-nilai umum dan prinsip-prinsip dasar inilah yang sebenarnya disebut syari’at.Kitab suci al-Alqur’an merupakan petunjuk etika,moral,akhlak,kebijaksanaan dan dapat menjadi theology ilmu serta grand theory ilmu.Sebagai sumber pengetahuan disamping pengetahuan yang di eksplorasi manusia.Perpaduan antara keduanya disebut teaoantroposentris.sehingga pemisahan keduanya,dalam bingkai sekularisme misalnya,sudah tidak sesuai lagi dengan semangat zaman kalau tidak bisa dikatakan sudah ketinggalan zaman.Peradaban kedepan atau peradaban pasca modern perlu ada perubahan.Yaitu rujuknya kembali agama dengan sector-sektor kehidupan lain,termasuk agama dan ilmu , yang sejak zaman hiruk pikuk renaissance Eropa terceraikan.
Ilmu yang lahir dari induk agama menjadi ilmu yang obyektif,dalam arti bahwa ilmu tersebut tidak diarasakan oleh penganut agama lain sebagai norma, tetapi sebagi gejala keilmuan yang obyektif, yang diterima oleh seorang atheis sekalipun.Maka objektifikasi ilmu adalah ilmu dari orang beriman untuk seluruh manusia.contoh objektifikasi ilmu antara lain : ilmu optik dan aljabar tanpa harus dikaitkan dengan budaya Islam era Al-Haitsami dan Al-Khawarizmi atau khasiat madu tanpa harus ia tahu bahwa dalam al-Qur’an terdapat ilmu tentang khasiat madu.Akhirnya ilmu yang lahir dari teori teaoantroposentris,terintegrasi antara etika agama dan eksplorasi manusia ( terhadap alam dan lingkungannya )obyektif,independen,dan tidak memihak suatu kepentinagn tertentu,bermanfaat untuk seluruh ummat manusia apapun backgroundnya.Bukan seperti ilmu-ilmu sekuler yang mengklaim sebagai value free ternyata penuh muatan kepentingan( kepentingan dominasi ekonomi, militer,dominasi kepentingan budaya barat dan lain-lain). Sebuah posisi tengah antara sekularisme dan fundamentalisme negative (tradisionalis) agama yang jumud.Pola dan hasil kerja integralistik dengan basis moralitas keagamaan ini bisa kita jumpai misalnya dalam ilmu ekonomi syariah,ekonomi bersandar wahyu yang jauh lebih komprehensif dalam meliput elemen- elemen penting bagi kemaslahatan manusia daripada system sekuler, mampu memberikan semua elemen yang diperlukan bagi kebahagian manusia menurut tuntunan persaudaraan dan keadilan sosio ekonomi.
Kedepan pola kerja integralistik dengan basis moralitas keagamaan ini dituntut mengurai ilmu-ilmu yang lebih luas seperti psikologi,sosiologi,politik, kesehatan,lingkungan dan seterusnya.
Gambar dibawah ini mengilustrasikan pola kerja keilmuan teaoantroposentris- integralistik.( Skema jaring laba-laba )












Skema tersebut menunjukan bahwa inti (hard core) keilmuan adalah al-Qur’an dan al-Sunnah sedangkan beberapa term yang mengitarinya adalah kawasan yang disebut sabuk pengaman.Inti adalah sesuatu yang final,tidak dapat dirubah-rubah.Sedangkan wilayah sabuk pengaman masih ada kemungkinan untuk terus di tajdid dan dikuatkan.
Amin Abdullah menilai bahwa kondisi sekarang ini menunjukan bahwa radius daya jangkau keilmuan dan lebih-lebih pendidikan agama di Perguruan Tinggi Agama, khususnya IAIN dan STAIN di seluruh tanah air,hanya berfokus pada lingkar 1 dan jalur lingkar lapis 2 ( Kalam. Falsafah,Tasawuf,Hadis,Tarikh,Fiqh,Tafsir).
Untuk menjangkau lingkar yang lebih luar lagi,khususnya dalam kasus IAIN dan STAIN,pengembangan ide / proyek ini ( reintegrasi epistemology keilmuan agama dan umum) perlu lebih dikuatkan,dialog dan kerjasama antar disiplin ilmu umum dan agama makin dieratkan.Pendekatan interdisciplinary dikedepankan,interkoneksitas dan sensitivitas antar berbagai disiplin ilmu perlu memperoleh skala prioritas dan dikembangkan terus menerus. Yang kemudian di ejawantahkan salah satunya dengan perubahan dan metamorfosa IAIN menjadi UIN. Contoh konkritnya adalah ketika fakultas syariah misalnya,juga dimasuki mata kuliah ilmu-ilmu social, filsafat ilmu,dan budaya dengan harapan alumninya bisa survive ketika mereka berhadapan dengan realitas social kemasyarakatan dan keagamaan yang begitu kompleks.Begitu juga fakultas Tarbiyah, Dakwah, Adab dan Ushuludin. Penyusunan mata kuliah, silabi atau kurikulum dengan nafas dan etos reintegrasi epistemology keilmuan,perlu mempertimbangkan prinsip-prinsip dasar sebagai berikut: hadarah al-nash(penyangga budaya teks bayani),hadharah al-ilm (teknik,komunikasi,ilmu empirik)dan hadarah al-falsafah (etik). Hadarah al-nash tidak lagi bisa berdiri sendiri terlepas dari hadaral al-ilm dan hadarah al-falsafah.begitu pula sebaliknya.Tiga entitas ini tidak boleh lepas satu dari yang lain.Jika hadarah al-ilm misalnya ,tidak berhubungan dan menyapa 2 entitas yang lain maka ujungnya akan berpaling dari realitas dan cenderung tidak berpihak kepadal akhlak dan moralitas, dan begitu seterusnya. Untuk memperjelas, simak skema perjalanan epistemology dari single entity ke arah integrasi-interkoneksi dibawah ini.
Skema Single Entity


Entitas hadarah al-nash dalam lingkaran tersebut bisa saja terganti dengan hadarah al-ilm atau hadarah al-falsafah,tergantung karakter berfikir individu.karakter itu tentu dipengaruhi oleh beberapa hal yang melatarbelakanginya.Pola single entity masih menganggap bahwa keilmuan tunggal mampu mengatasi berbagai macam persoalan tanpa bantuan ilmu-ilmu yang lain .sebuah symbol keangkuhan ilmu pengetahuan tidak ideal untuk IAIN apalagi UIN, begitu Amin.
Skema Isolated Entities




Tampak dalam skema diatas kelihatannya peradaban manusia ini telah semakin maju karena adanya ktiga entitas keilmuan tersebut.Namun oleh masyarakat ketiganya dipisahkan sehingga berdampak pada munculnya permasalahan sosial kontemporer.
Skema Interconected Entities






Skema tersebutlah yang dicita-citakan Amin Abdullah, yang merupakan proyek keilmuan yang diemban oleh visi dan misi perubahan IAIN ke UIN.Tampak dalam skema diatas masing masing rumpun ilmu sadar akan kterbatasan-keterbatsan yang melekat dalam diri sendiri dan oleh karenanya bersedia untuk berdialog, bekerjasama,bertegur sapa dan memanfaatkan metode dan pendekatan yang digunakan oleh rumpun lain untuk melengkapi kekurangan-kekurangan yang melekat jika masing-masing berdiri sendiri.
Proyek integrasi-interkoneksi merupakan jawaban atau respon terhadap kesulitan-kesulitan yang dirasakan selama ini yang dikarenakan terpisahnya ilmu umum dan ilmu agama dimana dipahami seakan ada jarak diantara keduanya yang tidak bisa di satukan dalam cara atau metode tertentu. Proyek integrasi-interkoneksi merupakan jawaban untuk memahami kompleksitas fenomena kehidupan yang dihadapi dan dijalani manusia, setiap bangunan keilmuan apapun, baik keilmuan Agama, keilmuan sosial, humaniora, kealaman dan sebagainya, tidaklah dibenarkan bersikap single entity. Masing-masing harus saling bertegur sapa antara satu sama lain.Kerjasama,saling membutuhkan,saling koreksi,dan saling keterhubungan antar disiplin keilmuan akan lebih dapat membantu manusia memahami kompleksitas kehidupan dan memecahkan persoalan yang dihadapinya.
F. Relevansinya bagi Ilmu-ilmu Pendidikan (Islam)
Epistemologi adalah cabang filsafat yang secara khusus membahas teori ilmu pengetahuan,terdapat tiga persoalan pokok dalam bidang ini,pertama apakah sumber-sumber pengetahuan itu dan bagaiman kita mengetahui,kedua apakah sifat dasar pengetahuan itu,adakh dunia yang diluar pikiran kita kalaw ada dapatkah kita menetahuinya?,ketiga apakah pengetahuan kita benar(valid)?bagaiman kita membedakan yang benar dan yang salah?
Dengan melihat pemikiran M. Amin Abdullah, kita bisa menguak dan mengungkap relevansi yang sangat erat pemikiran ini dengan ilmu pendidikan Islam sebagai berikut:
1.Peserta didik dididik untuk mempunyai dan menumbuhkan iman yang kuat, ibadah yang mantap serta akhlak yang mulia, karena dalam epistemology ini hard core keilmuan adalah al-Qur’an dan as-Sunnah apapun bidang studi yang ia tempuh dan dalami.
2.Dengan epistemology ini maka pendidikan ilmu pengetahuan tidak bercorak sekularistik, dimana ilmu-ilmu teknik misalnya dipelajari terpisah, tercerabut dari nafas agama.
3.Mendidik siswa/mahasiswa untuk menganalisis suatu persoalan secara integral dan komprehensif.
4.Dalam aplikasinya epistemology ini berkait dengan metode pengajaran, yang dimaksud metode disini adalah metodologi yang digunakan dalam pengembangan ilmu yang bersangkutan,perlunya metodologi pengajaran yang menarik, interkoneksi dengan metode pembelajaran global dan memberi makna yang dalam bagi pembelajaran,khususnya dalam ruang pendidikan.
4.Mengarahkan metodologi pembelajaran menjadi menarik dan dialogis yaitu interkoneksi anatara pendidik dan peserta didik.
5.Epistemologi ini menjadikan bangunan kurikulum menjadi kaya dan komprehensif. Misalnya di Fakultas Tarbiyah mahasiswa juga mempelajari psikologi, sosiologi atau anthropologi dan di Fakultas Sains mahasiswa juga belajar Tauhid,etika, akhlak Islam dan seterusnya.
6.Dengan pemikiran ini maka jadilah IAIN yang dulu hanya mempunyai lima Fakultas Keagamaan,bermetamorfosa menjadi UIN dengan membuka Fakultas Sains Teknologi dan Fakultas Sosial Humaniora.

G. Penutup
Proyek Epistemologi Keilmuan Interkonektif-Integratif M. Amin Abdullah adalah sebuah jalan keluar, yang memungkinkan para sarjana muslim bisa memandang agamanya lebih mendalam dan menyeluruh, dengan bebagai disiplin ilmu yang ia gunakan untuk memandang Islam yang pada gilirannya mereka bisa mengurai dan memberikan solusi berbagai problematika ummat Islam kontemporer.Disana akan tercipta misalnya seorang ilmuwan yang beriman,berakhlak dan membangun atau seorang Kyai yang melek perkembangan ilmu pengetahuan teknologi yang akhirnya tidak mudah dibodohi.


Daftar Pustaka
Abdullah, M. Amin, Islamic Studies di Perguruan Tinggi, Pendekatan Integratif- Interkonektif,( Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2006)
________________, Falsafah Kalam di Era Post Modernisme,( Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2004)
________________,Studi Agama Normativitas atau Historisistas?,( Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2004)
_____________dkk,Islamic Studies Dalam Paradigma Integrasi-Interkoneksi(Sebuah Antologi),( Yogyakarta: Suka Press,2007)
Nata, Abudin,Filsafat Pendidikan Islam,(Jakarta:Gaya Media Pratama,2005)

Arkoun, Muhammad, Islam Kontemporer,terj.Ruslani ( Yogyakarta:Pustaka Pelajar,2005)
Chapar, Umer, Islam dan Tantangan Ekonomi,( Jakarta: GIP, 2000)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar